Senin, 04 Maret 2019

NOVEL(PART 6)

CINTA HALALKU

PART 6 




"Semoga kamu adalah masa depanku. Aku disini bersiap menjemputmu."


~Fahri Al Farizi~




“Ayo naik.” Citra pun naik. Tanpa Citra sadari ternyata ada sepasang mata yang memperhatikannya.siapa lagi kalau bukan Zidan?

Gue kalah. gumam Zidan dan melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata melampiaskan rasa kesalmya.

“Cit, kamu udah izin mau keluar?”tanya Fahri

“Udah ko pak, tadi aku udah bilang ke Bang Reza.”

“Ck, jangan bapak dong udahan formalnya.”Fahri terkekeh.

“Heheh iya maksudnya udah kak, tadi udah bilang ke Bang Reza” Citra mengulangi perkataannya.

“Kamu masih pake baju sekolah, ganti dulu gih.”

“Lahh Citra gak bawa baju lagi kak.”

“Tadi kakak udah beli sweater buat kamu, tinggal double aja.”

“Buat aku?” Fahri mengangguk.

“Ada di bangku belakang tar kalo udah nyampe, kamu pake dulu sweaternya.”

“Ok kak.”

Beruntung hari ini tidak terlalu macet, jadi Fahri dan Citra bisa sampai lebih cepat.

“Ayo cit pake dulu, kakak tunggu di luar.”perintah Fahri. Citrapun memakai sweater yang dibelikan oleh Fahri. setelah itu ia keluar menghampiri kepsek mudanya.

“Nah kalo kaya gini kan enak.”

“Enak apanya kak?”tanya citra polos. Ah Citra memang polos, maksud Fahri kan enak memang terlihat seperti pasangan bukan seperti guru dan murid. Lagian Fahri masih muda kok dan mereka terlihat serasi.
Mereka memasuki mall dan langsung mencari buku yang Fahri butuhkan. Mata Citra berbinar melihat novel-novel.

“Mau? Ambil aja Cit.”tawar Fahri.

“Eehh engga kak. Oiya kakak udah dapet bukunya?” tanya Citra. Fahri hanya menunjukan buku yang telah berada ditangannya dan tersenyum. Citrapun mengangguk.

“Udah kak?”

“Udah Cit, ini kamu yakin gamau beli?”Citra mengangguk. Tapi Fahri tetap saja mengambilnya tanpa sepengetahuan Citra, karena dia sudah berjalan duluan.

“Kak, aku tunggu diluar ya.” ucap Citra, sambil menoleh ke belakang. Masalahnya ia ingin ke toilet.
Setelah Fahri membayar buku-buku itu, ia keluar tapi tak mendapkan Citra ada disitu.

“Itu anak kemana? katanya tunggu diluar?” gumam Fahri sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok pujaan hatinya itu.

“Ehh kak Fahri, udah lama kak?”tanya Citra yang tahu-tahu sudah ada dibelakang Fahri.

“Ngga, kamu abis dari mana katanya nunggu diluar?”

“Heheee tadi citra abis ke toilet kak. Maaf ya jadi nunggu.”

“Nih” Fahri memberikan tas berisi novel yang Citra mau.

“Apa ini? Haa—kak Fahri kenapa beliin novel? Kan tadi Citra bilang gak usah.”

“Udah ah bawel ya kamu.”ucap Fahri menjawil hidung Citra.

“Makasih ya kak Fahri, baik deh.”

“Iya sayang.”

“Hahhhh---?”

“Enggakkk.”

“ Pulang kak?”tanya Citra saat mereka sudah meninggalkan toko itu.

“Sabar dong ah, maen pulang aja. kakak laper nih. Kamu laper gak?”tanya Fahri yang memang perutnya sudah keroncongan.

“Lumayan sih kak.”jawab Citra sambil memegangi perutnya.

 “Makan dulu yuk, kamu mau makan apa?”

“Apa aja deh, aku ikut kakak aja.”

“Yaudah ayo.” Fahri membawa Citra ke restaurant langganannya. Jika ke mall pasti Fahri dan keluarganya selalu mampir ke restaurant ini.

“Nih pesen, sepuasnya.” Fahri menyodorkan buku menu  pada Citra.

“Samain aja ya kak.”

“Hmm ok ok.” fahri menyebutkan apa yang ia pesan dan pelayan itu mencatatnya.

“Cit?” Fahri menatap citra lekat. Citra menoleh lalu menundukan wajahnya.

“Kak liatin Citranya jangan kaya gitu, malu…”ucapCitra sambil menutupi muka dengan tangannya.

“Cit liat kakak.” Citra menggelengkan kepalanya dan masih menutupi muka dengan tangannya.

“Ayo lah, kakak ga bakal gigit ko.”canda Fahri.

“Apa?”jawab Citra mulai menatap Fahri.

“Kamu tau?-----“ belum selesai Fahri berbicara tapi Citra sudah memotongnya.

“Enggak.”

“Belom juga ngomong Ra, dengerin kakak nih mau ngomong.”Citra mengangguk. Tapi sepertinya Fahri harus menunda pembicaraannya karena pesanan mereka sudah datang.

“Nanti aja kakak ngomongnya, sekarang makan dulu.” Merekapun menyantap makanan dalam diam. Setelah itu, Fahri berniat akan mengungkapkan perasaannya. Mungkin Citra juga sudah mengetahui, tapi apa salahnya jika mengungkapkan? Dan menurut Fahri itu memang harus dilakukan.

“Cit?”

“Hmm?”

“Tau gak?”

“Apa kak?”

“Kakak suka sama kamu.”

Deg. Aaa Citra bingung harus apa pipinya pasti sudah merah sekarang, ditambah Fahri yang menatapnya lekat. Citra tersenyum kikuk.

“Kakak serius Cit.”
Diam. Citra tak tahu harus menjawab apa.

“Kakak gak bakal ngajak kamu pacaran kok.”
Citra menghela nafas lega.

“Ngajaknya nikah.” Deg deg deg!!!
Aaaa Kak Fahri…. batin Citra berteriak.

“Cit, kakak serius loh.”

“Tapi kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kenapa kakak pilih Citra padahal diluar sana masih banyak perempuan yang lebih dari Citra.”
“Cinta itu ga bisa di paksa Cit, hati kakak udah pilih kamu. Walau banyak perempuan diluar sana yang lebih dari kamu, kakak gak peduli.”

“Tapi citra….”

“Izinin kakak buat buktiin, kalo ucapan kakak gak main-main cit. kakak tau kamu masih sekolah, umur kita beda jauh. Itu bukan masalah buat kakak. Karena cinta gak mandang itu semua kan? “ Citra diam.

“Kamu gak perlu mikirin ini, anggep semuanya biasa aja ya. Kakak gamau ganggu fokus kamu di sekolah

“Tapiii….”

“Udah gak usah banyak tapi. Camkan kata-kata tadi. ok?”
Citra lagi-lagi diam.

“Kebanyakan bengong, ga bagus Cit. yuk pulang.” Fahri mengajak Citra pulang karena hari sudah semakin sore. Lagi-lagi senja memberi kenangan indah.

***

“Cieee novel baru. Kapan beli dek?” tanya Bang Reza saat aku membaca novel pemberian Kak Fahri.
“Kemaren kak.”jawab Citra singkat.

“Bukan tuh bilang mau beli buku. Kan kakak mau nitip juga.”

“Ini juga dadakan kak.”

“Tahu bulat kali ah.”Reza tertawa.

“Gak lucu ih, garing tau…”

“Suka-suka abang dong.”

“Iya deh serah bang eza ajaa.”ucap Citra tapi matanya tetap fokus pada novel.

“Dicuekin tuh gak enak dek.”ucap Reza kesal.

“Citra gak cuekin abang kok.”

“Serah deh…”Reza pura-pura merajuk.

“Ishh gitu aja ngambek, iya iya nih citra udahan baca novelnya.” Citra menutup novel itu sebenarnya ia sangat senang menjahili abangnya.

“Beli ice cream yuk dek.” ajak abangnya tiba-tiba.

“Ko tumben abang ngajak beli ice cream.”

“Pengen beli aja. mau gak?” tawar Reza. Sebenarnya Reza ngiler lihat buku Citra yang cover nya ice cream. Ditambah sekarang cuacanya panas.

Reza payah payah…

“Mau dong….”Citra bangkit dan langsung ikut abangnya membeli ice cream.
Reza membonceng Citra, yapp ia menggunakan motor. Toh jarak supermarketnya tak terlalu jauh.

Citra memeluk pinggang abangnya..

“Bang jangan ngebut sih.”pinta Citra.

“Ini tuh udah biasa dek, gak ngebuttt.”

“Serah abang aja deh.”

Lampu merah.
Semua kendaraan berhenti. Citra memfokuskan arah pandangannya ke sebuah mobil yang Citra kenali.

Kaya mobil Kak Fahri. pikirnya.

Dan ya si pemilik mobil melirik ke arahnya. Ternyata benar saja itu Fahri. Citra salah tingkah, ia semakin erat memeluk abangnya.

“Kenapa dek?”tanya Reza.
Sementara Fahri tersenyum lebar melihat Citra. Fahri tau jika itu abangnya. Jadi ia tak perlu cemburu.

Kakak juga mau dipeluk erat kaya gitu cit. batin Fahri.

Lampu hijau. Semua mulai melajukan kendaraannya.
Reza memakirkan motornya setelah sampai di supermaket.

“Heh tadi kenapa?”

“Apanya bang?”

“Tadi peluk abang kenceng banget di lampu merah.”

“Hahh? Masaa?” Citra tak menyadari.

“Yaiya adekku sayanggg.”

“Hehee maaf bang.”cengir Citra.

“Yaudah yuk deh masuk.” Citra mengalihkan topic pembicaraan. Ia tak mau jika abangnya itu tahu kenapa tadi ia seperti itu.

“Bang Citra mau 2 yah.”

“Sebanyak yang kamu mau juga gapapa dek.”jawab Reza tersenyum.

“Dua aja.”citra mengacungkan ice creamnya.

“Dua anak lebih baik.” reza menirukan iklan.

“Yhaa abang pengen nikah yaa..” reza tak menanggapi citra dan langsung pergi ke kasir untuk membayar belanjaan nya. Sebenarnya bukan belanjaan, hanya 3 ice cream saja.

“Ishh  di tinggal. Nyebelin deh.”

“Dek. Ke taman dulu yuk. Mau gak?” tanya Reza ketika akan mengendarai motornya untuk pulang.
“Yukkk.” Citra menyetujui. Citra pun butuh reflesing. Menjernihkan pikiran dan dari segela hal yang membuat penat.

“Enak ya dek, adem.”seru Reza sambil menikmati ice creamnya.

“Iya adem. Bang Reza ko tumben banget sih ngajak ke taman.”Citra masih heran dengan abangnya.

“Gapapa, abang cuma pengen kesini aja.”

“Abang kalo ada masalah, cerita sama Citra. Ya walaupun Citra cuma jadi pendengar yang baik. tapi kalo Citra ada solusi, pasti diungkapin lah bang.”

“Abang cuma kepikiran kamu.”

“Aku?”

“Iya dek.”

“Emang aku kenapa?”

“Ya gapapa.”

“Ishh aneh deh abang.”

“Kamu rencana kuliah kemana?”

"Mmmm belum tau, Citra masih bingung.”

“Pikirin dari sekarang ya,walaupun masih setahun lagi tapi apa salahnya memantapkan dari sekarang?”Citra mengangguk.

“Kalo nanti kamu udah jauh dari abang, abang gak bisa jaga kamu, gak bisa lindungin kamu.”ucap Bang Reza, terlihat sedih. Apa ini penyebab Reza bersikap sedikit aneh?

“Duhh ko terharu ya.”ucap Citra dan Reza mengusap puncak kepala Citra.

“Oiya, abang lupa. Tentang cowok waktu itu. bener kan?”

“Bener apa bang?”tanya Citra bingung.

“Bener kalo dia suka sama kamu.”
 Hmm mungkin maksud Reza adalah Fahri.
Citra diam…

“Abang juga gak mau kalo kamu sampe disakitin sama cowok.” Begitulah Reza, ia sangat menyayangi adiknya. Takkan ia biarkan ada yang menyakiti adik kesayangannya itu.

***

“Citra, besok kamu bisa keluar rumah?”tanya Fahri.

“Mungkin bisa pak.”

“Ck, jangan formal sayang.”bisik Fahri membuat Citra membelalakkan matanya.

“Ishh Kak Fahri.”

“Hehe maaf maaf, tapi ini udah jam pulang. Jadi it’s ok.”alasan Fahri.

“Oiya emang mau kemana nanti besok?”tanya Citra.

“Liat aja nanti. “

“Gak mau ngasih tau jadi nih?”

“Udah deh, yuk pulang.”

“Bareng?”

“Iya bareng my girl. Kamu tunggu di parkiran aja. saya mau ambil kunci dulu”Citra mengangguk dan berjalan menuju parkiran. Disusul oleh Fahri dibelakangnya.
Semakin hari hubungan Citra dan Fahri semakin dekat. Mungkin sudah banyak yang tahu juga tentang hubungan mereka. Semakin banyak yang bertanya mengenai kedekatan mereka. Apalagi jika disekolah, walau mereka sudah menjaga jarak tetap saja pasti lama-kelamaaan semua akan mengetahuinya. Sulit dipercaya memang, tapi ya inilah kenyataannya.

“Cit.”panggil Fahri setelah mereka berada dalam mobil.

“Iya kak?” Citra menoleh pada Fahri.

“Ah, engga. Nanti aja bilangnya.”ucap Fahri dan melajukan mobilnya mengantar Citra pulang.

“Hihh seneng banget bikin orang penasaran.”kesal Citra. Fahri terkekeh dan mengusap puncak kepala Citra.

“Kamu jangan ngambek gitu, jelek.”

“Terserah bapak aja deh.”

“Sebenarnya gak mau dipanggil bapak sama kamu.”

“Yaudah, kakak.”

“Gak mau juga.”

“Ya terus apa dong?”tanya Citra bingung.

“Nggak deh” Jawab Fahri singkat. 

"Ishh apa deh?"

"Saya-ng" jawab Fahri sengaja mengeja.

Blushhh--- 

"Apa sih kak."seketika Citra tersenyum dan mengalihkan pandangannya kejalanan. Ia tak mau Fahri melihat pipinya yang memerah. ia malu. benar-benar malu. sementara Fahri tersenyum lebar melihat citra seperti itu. 

“Oiya, nanti besok jam berapa kak?”tanya Citra

“Pagi ya, biar gak macet. Bunda juga ikut.”

“Bunda? Duhh malu kak.”

“Gak usah malu, bunda udah tau kamu kok.”

“Iya kak tapi kan tetep aja malu.”

“Yaudah tar kakak ajak novi.”

“Mmm ok kak.”

“Heyy kamu laper gak?”tanya Fahri.

“Laperr hehee.”cengir Citra memperlihatkan deretan giginya.

“Bakso yuk.”

“Ayokk.’ucap Citra bersemangat.

Setelah sampai ditukang bakso Fahri memesan dua porsi bakso.

“Kamu mienya campur gak?”

“Mie kuningnya aja kak.”

“Minumnya?”

“Terserah kakak.”

"Ok, bang bakso nya 2 ya pake mie kuningnya aja. minumnya jus mangga.”

“Siap pak.”ucap tukang bakso itu.

Fahri dan Citra memilih tempat duduk dekat jendela. Tak lama setelah itu, pesanan mereka pun sampai.
“Jangan pedes-pedes, kasian lambung kamu.”ucap Fahri saat Citra akan memasukan sambal dalam baksonya.
“iyaiya kak.”

Merekapun mulai menyantap baksonya dan setelah itu mereka pulang.
Setelah Fahri mengantarkan citra pulang, iya mampir ke supermarket membeli beberapa macam camilan untuk besok. Takut-takut Citra laper dan pengen ngemil kan? Tapi sebenarnya bunda juga sedang bikin brownies untuk besok. Tapi apa salahnya kan membeli camilan lain?
Setelah Fahri membayar, ia segera pulang.

“Gimana ri? Citra mau?” tanya bundanya  saat Fahri menghampiri.
“Mau bun.”Fahri mengangguk senang.  

“Ada yang bisa Fahri bantu bun?” tanya ahri saat bundanya membuat brownies. Bunda menggeleng.
“Ini udah beres kok. tinggal tunggu mateng aja.”Fahri mengangguk. Ia tak sabar untuk menanti hari esok.
Fahri berniat untuk mengirimkan pesan pada Citra. Tapi ia mengurungkan niat itu. akhirnya ia memilih untuk pergi ke kamarnya dan tidur. Hari ini begitu melelahkan menurut Fahri. 

***
“Cit, kamu udah sarapan?”tanya Bu Nisa.

“Udah kok tante.”

“Panggil bunda aja.”pinta Nisa.

“Ehh—iya bunda.”

“Maaf ya Novi malah gak jadi ikut. Dia harus pergi nganter mamanya katanya.

“Iya bun, gakpapa kok”

Saat ini Citra, Fahri, dan bunda sudah dalam perjalanan menuju tempat  yang dituju…

“Oiya bunda bikin brownies, cobain ya.” Bunda mengeluarkan brownies dan Citra memakannya.

“Wahh enak bun, boleh gak kapan-kapan Citra belajar sama bunda?”

“Iya sayang boleh dong.”ucap bunda tersenyum.

Setelah 1 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dan sampailah mereka disebuah rumah yang indah dan nyaman.

“Ini rumah siapa kak?”

“Ini rumah kakak, Cit.”

“Oh kakak punya rumah, kakak mau pindah?”tanya Citra.

“Iya mau, tapi nanti.” Citra mengangguk.

“Kamu gak mau nanya kapan kakak pindah?”Fahri harus sabar menghadapi Citra yang kadang tidak peka.

“Oh pengen ditanya?”ucap Citra polos. Arghhh Fahri gemasss…

Fahri berniat untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal dirumah ini, memang setiap seminggu sekali ada orang yang bertugas membersihkan rumah ini agar selalu rapi dan terawat. Fahri mengajak Citra dan bundanya bukan hanya sekedar melihat rumahnya, tapi mengajak mereka untuk berlibur akhir pekan. Menurut Fahri disini udaranya masih bersih, sejuk, dan bebas dari polusi. Ayah tidak ikut, karena beliau sedang bertugas keluar kota.

“Kalo kakak pindah sekarang, berati ke sekolahnya harus sepagi apa dong?”

“Kakak ga bakal pindah sekarang Cit.”

“Terus kapan?”

"Nanti."

"Kapan?"tanya Citra lagi.

"Kamu pengen banget kakak pindah ya hmm?" Citra menggeleng.

“Nunggu kamu.”

"Lahhh? Kok nunggu aku?"

"Jadi milikku."


Part 6, adakah yang masih setia sama cerita ini? hehe...
maafkan jika banyak kekurangan karena masih dalam tahap belajar.
tuliskan komentar mu..

Terima kasih :)


NOVEL (PART 5)

CINTA HALALKU

PART 5 

"Kau sudah menjadi pelangi baru dalam hidupku. mewarnai hari-hariku."

~Fahri Al Farizi~


“Vi besok jam berapa?”tanyaku  karena besok akan mengerjakan tugas prakarya. Entahlah sekarang-sekarang memang banyak tugas kelompok. Bahkan aku sampai bingung kelompokku yang mana karena setiap pelajaran beda pula kelompoknya. Tapi kali ini aku satu kelompok dengan Novi sedangkan Mita dengan Rani.

“Jam 10 cit. bisa kan?” aku mengangguk.

“Eh iya. Kalian udah?” tanyaku pada Mita dan Rani.

“Belum nih, mau kerja kelompok besok tapi gak bisa. Soalnya mama minta buat temenin belanja hehehee”

“Iya deh yang mau shopping.”

“Oiya cit, emang bener kemaren dianter Kak Fahri?”tanya Novi penasaran. Aku malu. Aku maluuuu….

“Mmm iya.”jawabku singkat. Membuat mereka terus saja menggodaku.

“Cieee cieee.”

“Asikkkk”

“Duhh pengen dianter doi juga dong.”seru Rani.

“Ishh kalian apa deh.”

“Ko ga bilang-bilang sih Cit?” tanya Novi.

“Emang harus bilang?"

“Ya ngga juga sih hehehee.”

            Seperti yang sudah direncanakan, hari ini Citra akan mengerjakan tugas kelompok di rumah Novi lagi. tapi cuacanya sedikit mendung, seperti kurang mendukung. Tapi ia tetap saja melajukan motor maticnya. Sebenarnya ini udah mulai gerimis dann…….byurrrrrrr hujan seketika menjadi deras. Citra tak sempat berteduh dan memang tidak ada tempat untuk berteduh. Bajunya sudah basah kuyup, tapi ia lihat di sana ada ruko dan berniat berteduh disana. Beruntunglah rukonya masih tutup jadi tak malu untuk berteduh.


Citra mengirimkan pesan pada Novi.

Vi, aku kejebak ujan gimana iniii..
send.

Sementara Novi yang menunggu Citra kaget mendapatkan pesan bahwa sahabatnya itu terjebak hujan. Fahri yang kebetulan ada disitu heran melihat Novi yang mendadak hawatir.

“Kamu kenapa?”tanya Fahri pada Novi.

“Citra kak.”

“Citra? Kenapa Citra?” Fahri langsung saja jika sudah mendengar kata Citra.

“Mau kelompok kan disini.”

“Lahh terus? Kenapa hawatir gitu?

“Kejebak ujan dia kak.”

“APAA?!” Fahri panik. ‘kasian Citra’ ia langsung mengambil ponsel Novi.

Tunggu disitu!
send.

Fahri langsung melesat menjalankan mobilnya, tapi saat diambang pintu ia berbalik.

“Vi tanyain, dimana sekarang? Masa kakak mau jemput tapi gatau orangnya dimana.”

“Yehh kakak sih terlalu semangat.”Novi terkekeh.

“Cepet vii”

“Sabar kak, ini belom di bales.”

“Udah belum?” Novi memperlihatkan balasan Citra pada Fahri. Fahri mengangguk dan bergegas.

 Citra kedinginan, hujannya tambah deras dan ia tak tahu harus bagaimana, Novi menyuruhnya untuk tetap tunggu disitu. Citra tetap berdiri dan memandangi ponselnya..

“Diii—ngin”gumam Citra pelan. Bibirnya sudah biru.

“Nih pake.” Tiba-tiba ada seseorang yang memakaikan jaket ke punggungnya.

Citra mendongak.

“Kak Fahri?”

“Udah lama?”tanya Fahri. Citra tak menjawab dan malah balik bertanya.

 “Kakak ko disini?”

“Udah jangan banyak nanya, ayo masuk.”

“Tapi baju aku basah semua.”

“Udah gakpapa. Ayo Cit naik. Kakak ga tega liat kamu kedinginan gini.”

“Tapi motor aku?”

“Titip disana aja ya? Disana ada parkiran kan?” Citra mengangguk.

“Mana sini kuncinya.”Citra memberikan kunci itu pada Fahri.

“Tunggu sebentar.” Fahri menjalankan motor Citra ketempat parkiran, tak jauh dari situ dan Fahri pun kembali.

“Udah motornya aman kok.”

Citra terus memandangi baju Fahri yang basah. Ia merasa tak enak karena telah merepotkan Fahri.

“Maaf ya kak.”

“Maaf kenapa?”

“Itu baju kakak jadi basah semua.”

“Udah santai aja, Cit.”

Merakapun masuk kedalam mobil dan Fahri mulai menjalankan mobilnya. Hujan hari ini memberi kehangatan untuk Fahri. ia bisa lebih merasakan nikmatnya hujan bersama orang terkasih disampingnya. Ia menyunggingkan senyumnya dan melirik Citra sekilas.

Makasih udah ngisi ruang kosong dihati gue. batin Fahri.

***
Hari ini diadakan bazar makanan, agenda rutin setiap satu tahun sekali di SMA TARUNA, jadi setiap kelas minimal harus membuat 3 macam makanan tradisional dan nanti panitia akan menilainya. Mulai dari rasa, tampilan, kebersihan, kerapihan, dan masih banyak lagi. Semua kelas sudah ada tempatnya masing-masing dan lapangan kali ini sudah siap menjadi tempat bazar dan sudah dihias sedemikian rupa.

“Ini udah semua kan?” tanya Rangga.

“Udah kok.”jawab yang lain.

“Oiya, siapa yang mau jaga disini?”

“Jangan gue deh.”

“Jangan gue.”

“Jangan gue.”

“Yaudah aku aja.”ucap Citra.

“Ok, sama siapa lu Cit?”

“Sama gue aja.”ucap seseorang.

“Gila lu mana boleh, kita beda kelas.”jawab Rangga.

“Gapapa kali kan deketan ipa 1 sama ipa 2.”

“Tetep ga boleh Zidan, lu tau peraturannya kan?” Zidan menghela nafas pasrah.

“Ok ok.”

“Yang jaga stand kita Citra sama Gue aja.”ucap Novi dan semuanya setuju.
Semua sudah pada posisi masing-masing. Pertama-tama acara ini akan dibuka dengan sambutan dari kepala sekolah juga pengguntingan pita.

“Aaa bapakkk”

“Duhh bapakk ganteng banget sih pak.”

“Pakkk jangan senyum gitu, ga kuat guee.”

“Yang lama ya pak sambutanya, biar gue bisa liat bapak teruss.”

Anak-anak riuh karena memang Fahri lah yang memberi sambutannya, Fahri mulai memberikan sambutan dan membuka acara ini dengan pengguntingan pita. Citra yang dari tadi mendengar teriakan histeris anak-anak hanya menggelengkan kepalanya saja.

“Jangan cemburu loh.”bisik Novi.

“Siapa juga yang cemburu.”Novi malah cekikikan.
Panitia mulai berkeliling dan menilai semua makanan, yang menilai adalah kepala sekolah dan 5 orang guru.

Apa? Kepsek? Fahri dong? Yapp Fahri pun ikut menilai.
Citra menjadi deg-degan.

“Jangan deg-degan, biasa aja. tenang ada gue.”tebak Novi.

“Apasih Vi.”

“Udah Cit gausah boong, ketauan tau.” Citra diam tak menanggapi.

Kini giliran kelasnya yang dinilai.

“Semoga jurinya suka ya makanan kita dan bisa menang deh.”ucap Novi. Citra mengangguk.

“Kalian buat apa aja?” tanya Fahri.

“Kami buat pempek, siomay, cilok, sama es buah, Pak.”jawab Citra sebisa mungkin tak gugup dan yang pasti jangan sampai keceplosan manggil ’kakak’

Juru-juri mulai mencoba makanannya dan menilai.

“Enakk.”ucap Fahri.

“Makasih pak.”jawab Citra dan Novi kompak.

“Oiya, kamu. Kamu siapa namanya?”

“Saya pak?”tunjuk Citra pada dirinya sendiri. “Saya Citra Pak.” Fahri bertanya seolah-olah belum mengenal Citra, dan ia harus terlihat professional. Ia harus bisa menempatkan posisi, situasi, dan kondisi.

“Ok, nanti setelah selesai acara. Kamu ke ruangan saya ya.”

“Baik, Pak.” Jawab Citra. Citra sendiri pun bingung mengapa Kak Fahri memanggilnya. Sementara yang lain riuh..

“Duhh Citt gue aja yang gantiin lu.”

“Gue aja Cit."

“Gue aja.”

Anak-anak ada disekitar area bazar riuh karena mendengar perkataan Fahri.
Sementara disebelah Citra, ada Zidan yang terus memperhatikannya. Jujur, Zidan tak suka.
Apalagi dulu sempat ada yang bilang bahwa Fahri mengantarkan Citra pulang. Zidan tak tahu berita itu benar atau tidak yang pasti Zidan tak suka.
Tanpa sadar Zidan menatap Fahri dengan tatapan tak suka. Fahri pun jelas mengetahui arti dari tatapan itu. Fahri juga sudah tau jika Zidan memang menyukai Citra.

Setelah semua makanan dinilai, anak-anak mulai membeli berbagai macam makanan yang ada dibazar. Sangat ramai. Ada yang menawarkan makanan ada yang menggoreng, ada yang bolak-balik membawa es batu, air, dan banyak lagi keseruan lainnya disetiap bazar ini . setelah semua puas, makanan pun habis terjual mereka berkumpul dilapangan untuk mendengarkan pengumuman sekaligus menutup acara ini. Oiya, sebelum itu mereka harus membersihan lapangan dari sampah-sampah. Baru lah mereka berkumpul dilapangan.

“Baik, saya akan umumkan 3 kelas pemenang bazar makanan ini.”

“Juara 3 dimenagkan oleh XII IPA 2”

“Juara 2 dimenangkan oleh XII IPS 1”

“Dan juara pertama dimenangkan oleh….”Fahri menggantungkan kalimatnya membuat anak-anak tak sabar ingin mendengarkan kelanjutannya.

“XI IPA…”lagi-lagi Fahri menggantungkan kalimatnya membuat semuanya gemas sendiri.

“Bapakk ayo dong pak, penasaran kita”

“Yahh XI IPA, kita gak dapet guys.”ucap anak XI IPS.

“IPA berapa nih pak?”

“Ahh bapak bikin penasaran aja.”

“XI IPA 1” fahri melanjutkan perkataannya. Semua anak XI IPA 1 berteriak kegirangan.yaa benar itu memang kelas citra. Etsss… tapi ini memang murni penilaian para juri, bukan fahri yang menyuruh atau hal-hal curang lainnya. Fahri menutup acara ini dan semuanya berjalan dengan lancar.
Fahri kembali ke ruangannya dan yang pasti menunggu pujaan hati.

“Cit, pulang bareng yuk!” ajak zidan ketika citra sudah berada di luar kelas.

“Duluan aja dan.”tolak Citra.

“Lo mau pulang juga kan?”Citra mengangguk.

“Terus kenapa?”

“Gakpapa.”

Tiba-tiba novi teriak dari dalam.

“Ehh Cit jangan lupa loh ke ruang kepsek dulu---- upssss.” Novi kaget ternyata disitu ada Zidan. Novi pun sudah tau jika Zidan tak suka dengan kepsek baru itu, yang tak lain adalah kakak sepupu Novi. Belum banyak yang tahu, hanya Novi dan sahabat-sahabatnya saja.

“Yaudah aku duluan ya.”Novi mengangguk sedangkan Zidan? Ia hanya menatap Citra yang semakin menjauh.

Apa gue harus bener-bener buang rasa cinta ini Cit? gue udah coba. Tapi gak bisa. batin Zidan.

Tok..tok…tok…

“Masuk.”

“Assalamu’alaikum Pak.”

“Wa’alaikumsalam. Duduk.”perintah Fahri.
Citra pun duduk.

“Ada apa pak?”

“Kamu mau anter saya?”

“Kemana pak?”

“Beli buku.” Citra mengangguk senang.

“Yaudah yuk.”

“Ehh tapi kalo diliatin gimana? Citra dulu yang keluar ya. Baru bapak.” Fahri tertawa pelan.

“Yaudah iya kamu dulu.”

Citra keluar dan disusul oleh Fahri. Fahri segera memarkirkan mobilnya dan Citra menunggu di dekat halte.

“Ayo naik.” Citra pun naik. Tanpa Citra sadari ternyata ada sepasang mata yang memperhatikannya.siapa lagi kalau bukan Zidan?

Gue kalah. gumam Zidan dan melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata melampiaskan rasa kesalmya




Part 5, gimana gimana? maaf jika jauh dari kata sempurna. masih belajar :)

ku tunggu komentarnya. terima kasih :)

NOVEL(PART 6)

CINTA HALALKU PART 6  "Semoga kamu adalah masa depanku. Aku disini bersiap menjemputmu." ~Fahri Al Farizi~ ...