CINTA HALALKU
"Semoga kamu adalah masa
depanku. Aku disini bersiap menjemputmu."
~Fahri Al Farizi~
“Ayo naik.” Citra pun
naik. Tanpa Citra sadari ternyata ada sepasang mata yang memperhatikannya.siapa
lagi kalau bukan Zidan?
Gue
kalah. gumam Zidan dan melajukan motornya dengan kecepatan
diatas rata-rata melampiaskan rasa kesalmya.
“Cit, kamu udah izin
mau keluar?”tanya Fahri
“Udah ko pak, tadi aku
udah bilang ke Bang Reza.”
“Ck, jangan bapak dong udahan
formalnya.”Fahri terkekeh.
“Heheh iya maksudnya
udah kak, tadi udah bilang ke Bang Reza” Citra mengulangi perkataannya.
“Kamu masih pake baju
sekolah, ganti dulu gih.”
“Lahh Citra gak bawa
baju lagi kak.”
“Tadi kakak udah beli
sweater buat kamu, tinggal double aja.”
“Buat aku?” Fahri
mengangguk.
“Ada di bangku belakang
tar kalo udah nyampe, kamu pake dulu sweaternya.”
“Ok kak.”
Beruntung hari ini
tidak terlalu macet, jadi Fahri dan Citra bisa sampai lebih cepat.
“Ayo cit pake dulu,
kakak tunggu di luar.”perintah Fahri. Citrapun memakai sweater yang dibelikan
oleh Fahri. setelah itu ia keluar menghampiri kepsek mudanya.
“Nah kalo kaya gini kan
enak.”
“Enak apanya kak?”tanya
citra polos. Ah Citra memang polos, maksud Fahri kan enak memang terlihat
seperti pasangan bukan seperti guru dan murid. Lagian Fahri masih muda kok dan
mereka terlihat serasi.
Mereka memasuki mall dan
langsung mencari buku yang Fahri butuhkan. Mata Citra berbinar melihat
novel-novel.
“Mau? Ambil aja
Cit.”tawar Fahri.
“Eehh engga kak. Oiya
kakak udah dapet bukunya?” tanya Citra. Fahri hanya menunjukan buku yang telah
berada ditangannya dan tersenyum. Citrapun mengangguk.
“Udah kak?”
“Udah Cit, ini kamu
yakin gamau beli?”Citra mengangguk. Tapi Fahri tetap saja mengambilnya tanpa
sepengetahuan Citra, karena dia sudah berjalan duluan.
“Kak, aku tunggu diluar
ya.” ucap Citra, sambil menoleh ke belakang. Masalahnya ia ingin ke toilet.
Setelah Fahri membayar
buku-buku itu, ia keluar tapi tak mendapkan Citra ada disitu.
“Itu anak kemana?
katanya tunggu diluar?” gumam Fahri sambil mengedarkan pandangannya mencari
sosok pujaan hatinya itu.
“Ehh kak Fahri, udah
lama kak?”tanya Citra yang tahu-tahu sudah ada dibelakang Fahri.
“Ngga, kamu abis dari
mana katanya nunggu diluar?”
“Heheee tadi citra abis
ke toilet kak. Maaf ya jadi nunggu.”
“Nih” Fahri memberikan
tas berisi novel yang Citra mau.
“Apa ini? Haa—kak Fahri
kenapa beliin novel? Kan tadi Citra bilang gak usah.”
“Udah ah bawel ya
kamu.”ucap Fahri menjawil hidung Citra.
“Makasih ya kak Fahri,
baik deh.”
“Iya sayang.”
“Hahhhh---?”
“Enggakkk.”
“ Pulang kak?”tanya Citra
saat mereka sudah meninggalkan toko itu.
“Sabar dong ah, maen
pulang aja. kakak laper nih. Kamu laper gak?”tanya Fahri yang memang perutnya
sudah keroncongan.
“Lumayan sih kak.”jawab
Citra sambil memegangi perutnya.
“Makan dulu yuk, kamu mau makan apa?”
“Apa aja deh, aku ikut
kakak aja.”
“Yaudah ayo.” Fahri
membawa Citra ke restaurant langganannya. Jika ke mall pasti Fahri dan
keluarganya selalu mampir ke restaurant ini.
“Nih pesen, sepuasnya.”
Fahri menyodorkan buku menu pada Citra.
“Samain aja ya kak.”
“Hmm ok ok.” fahri
menyebutkan apa yang ia pesan dan pelayan itu mencatatnya.
“Cit?” Fahri menatap
citra lekat. Citra menoleh lalu menundukan wajahnya.
“Kak liatin Citranya
jangan kaya gitu, malu…”ucapCitra sambil menutupi muka dengan tangannya.
“Cit liat kakak.” Citra
menggelengkan kepalanya dan masih menutupi muka dengan tangannya.
“Ayo lah, kakak ga
bakal gigit ko.”canda Fahri.
“Apa?”jawab Citra mulai
menatap Fahri.
“Kamu tau?-----“ belum
selesai Fahri berbicara tapi Citra sudah memotongnya.
“Enggak.”
“Belom juga ngomong Ra,
dengerin kakak nih mau ngomong.”Citra mengangguk. Tapi sepertinya Fahri harus
menunda pembicaraannya karena pesanan mereka sudah datang.
“Nanti aja kakak
ngomongnya, sekarang makan dulu.” Merekapun menyantap makanan dalam diam.
Setelah itu, Fahri berniat akan mengungkapkan perasaannya. Mungkin Citra juga
sudah mengetahui, tapi apa salahnya jika mengungkapkan? Dan menurut Fahri itu
memang harus dilakukan.
“Cit?”
“Hmm?”
“Tau gak?”
“Apa kak?”
“Kakak suka sama kamu.”
Deg. Aaa Citra bingung
harus apa pipinya pasti sudah merah sekarang, ditambah Fahri yang menatapnya
lekat. Citra tersenyum kikuk.
“Kakak serius Cit.”
Diam. Citra tak tahu
harus menjawab apa.
“Kakak gak bakal ngajak
kamu pacaran kok.”
Citra menghela nafas
lega.
“Ngajaknya nikah.” Deg
deg deg!!!
Aaaa
Kak Fahri…. batin Citra berteriak.
“Cit, kakak serius
loh.”
“Tapi kenapa?”
“Kenapa apa?”
“Kenapa kakak pilih Citra
padahal diluar sana masih banyak perempuan yang lebih dari Citra.”
“Cinta itu ga bisa di
paksa Cit, hati kakak udah pilih kamu. Walau banyak perempuan diluar sana yang
lebih dari kamu, kakak gak peduli.”
“Tapi citra….”
“Izinin kakak buat
buktiin, kalo ucapan kakak gak main-main cit. kakak tau kamu masih sekolah,
umur kita beda jauh. Itu bukan masalah buat kakak. Karena cinta gak mandang itu
semua kan? “ Citra diam.
“Kamu gak perlu mikirin
ini, anggep semuanya biasa aja ya. Kakak gamau ganggu fokus kamu di sekolah
“Tapiii….”
“Udah gak usah banyak
tapi. Camkan kata-kata tadi. ok?”
Citra lagi-lagi diam.
“Kebanyakan bengong, ga
bagus Cit. yuk pulang.” Fahri mengajak Citra pulang karena hari sudah semakin
sore. Lagi-lagi senja memberi kenangan indah.
***
“Cieee novel baru.
Kapan beli dek?” tanya Bang Reza saat aku membaca novel pemberian Kak Fahri.
“Kemaren kak.”jawab Citra
singkat.
“Bukan tuh bilang mau
beli buku. Kan kakak mau nitip juga.”
“Ini juga dadakan kak.”
“Tahu bulat kali ah.”Reza
tertawa.
“Gak lucu ih, garing
tau…”
“Suka-suka abang dong.”
“Iya deh serah bang eza
ajaa.”ucap Citra tapi matanya tetap fokus pada novel.
“Dicuekin tuh gak enak
dek.”ucap Reza kesal.
“Citra gak cuekin abang
kok.”
“Serah deh…”Reza
pura-pura merajuk.
“Ishh gitu aja ngambek,
iya iya nih citra udahan baca novelnya.” Citra menutup novel itu sebenarnya ia
sangat senang menjahili abangnya.
“Beli ice cream yuk
dek.” ajak abangnya tiba-tiba.
“Ko tumben abang ngajak
beli ice cream.”
“Pengen beli aja. mau
gak?” tawar Reza. Sebenarnya Reza ngiler lihat buku Citra yang cover nya ice
cream. Ditambah sekarang cuacanya panas.
Reza
payah payah…
“Mau dong….”Citra
bangkit dan langsung ikut abangnya membeli ice cream.
Reza membonceng Citra,
yapp ia menggunakan motor. Toh jarak supermarketnya tak terlalu jauh.
Citra memeluk pinggang
abangnya..
“Bang jangan ngebut
sih.”pinta Citra.
“Ini tuh udah biasa
dek, gak ngebuttt.”
“Serah abang aja deh.”
Lampu merah.
Semua kendaraan
berhenti. Citra memfokuskan arah pandangannya ke sebuah mobil yang Citra kenali.
Kaya
mobil Kak Fahri. pikirnya.
Dan ya si pemilik mobil
melirik ke arahnya. Ternyata benar saja itu Fahri. Citra salah tingkah, ia
semakin erat memeluk abangnya.
“Kenapa dek?”tanya Reza.
Sementara Fahri
tersenyum lebar melihat Citra. Fahri tau jika itu abangnya. Jadi ia tak perlu cemburu.
Kakak
juga mau dipeluk erat kaya gitu cit. batin Fahri.
Lampu hijau. Semua
mulai melajukan kendaraannya.
Reza memakirkan
motornya setelah sampai di supermaket.
“Heh tadi kenapa?”
“Apanya bang?”
“Tadi peluk abang
kenceng banget di lampu merah.”
“Hahh? Masaa?” Citra
tak menyadari.
“Yaiya adekku
sayanggg.”
“Hehee maaf
bang.”cengir Citra.
“Yaudah yuk deh masuk.”
Citra mengalihkan topic pembicaraan. Ia tak mau jika abangnya itu tahu kenapa
tadi ia seperti itu.
“Bang Citra mau 2 yah.”
“Sebanyak yang kamu mau
juga gapapa dek.”jawab Reza tersenyum.
“Dua aja.”citra
mengacungkan ice creamnya.
“Dua anak lebih baik.” reza
menirukan iklan.
“Yhaa abang pengen
nikah yaa..” reza tak menanggapi citra dan langsung pergi ke kasir untuk
membayar belanjaan nya. Sebenarnya bukan belanjaan, hanya 3 ice cream saja.
“Ishh di tinggal. Nyebelin deh.”
“Dek. Ke taman dulu
yuk. Mau gak?” tanya Reza ketika akan mengendarai motornya untuk pulang.
“Yukkk.” Citra
menyetujui. Citra pun butuh reflesing. Menjernihkan pikiran dan dari segela hal
yang membuat penat.
“Enak ya dek,
adem.”seru Reza sambil menikmati ice creamnya.
“Iya adem. Bang Reza ko
tumben banget sih ngajak ke taman.”Citra masih heran dengan abangnya.
“Gapapa, abang cuma
pengen kesini aja.”
“Abang kalo ada
masalah, cerita sama Citra. Ya walaupun Citra cuma jadi pendengar yang baik.
tapi kalo Citra ada solusi, pasti diungkapin lah bang.”
“Abang cuma kepikiran
kamu.”
“Aku?”
“Iya dek.”
“Emang aku kenapa?”
“Ya gapapa.”
“Ishh aneh deh abang.”
“Kamu rencana kuliah
kemana?”
"Mmmm belum tau, Citra
masih bingung.”
“Pikirin dari sekarang
ya,walaupun masih setahun lagi tapi apa salahnya memantapkan dari sekarang?”Citra
mengangguk.
“Kalo nanti kamu udah
jauh dari abang, abang gak bisa jaga kamu, gak bisa lindungin kamu.”ucap Bang Reza,
terlihat sedih. Apa ini penyebab Reza bersikap sedikit aneh?
“Duhh ko terharu
ya.”ucap Citra dan Reza mengusap puncak kepala Citra.
“Oiya, abang lupa.
Tentang cowok waktu itu. bener kan?”
“Bener apa bang?”tanya
Citra bingung.
“Bener kalo dia suka
sama kamu.”
Hmm mungkin maksud Reza adalah Fahri.
Citra diam…
“Abang juga gak mau
kalo kamu sampe disakitin sama cowok.” Begitulah Reza, ia sangat menyayangi
adiknya. Takkan ia biarkan ada yang menyakiti adik kesayangannya itu.
***
“Citra, besok kamu bisa
keluar rumah?”tanya Fahri.
“Mungkin bisa pak.”
“Ck, jangan formal
sayang.”bisik Fahri membuat Citra membelalakkan matanya.
“Ishh Kak Fahri.”
“Hehe maaf maaf, tapi
ini udah jam pulang. Jadi it’s ok.”alasan Fahri.
“Oiya emang mau kemana
nanti besok?”tanya Citra.
“Liat aja nanti. “
“Gak mau ngasih tau
jadi nih?”
“Udah deh, yuk pulang.”
“Bareng?”
“Iya bareng my girl.
Kamu tunggu di parkiran aja. saya mau ambil kunci dulu”Citra mengangguk dan
berjalan menuju parkiran. Disusul oleh Fahri dibelakangnya.
Semakin hari hubungan
Citra dan Fahri semakin dekat. Mungkin sudah banyak yang tahu juga tentang
hubungan mereka. Semakin banyak yang bertanya mengenai kedekatan mereka.
Apalagi jika disekolah, walau mereka sudah menjaga jarak tetap saja pasti
lama-kelamaaan semua akan mengetahuinya. Sulit dipercaya memang, tapi ya inilah
kenyataannya.
“Cit.”panggil Fahri setelah
mereka berada dalam mobil.
“Iya kak?” Citra
menoleh pada Fahri.
“Ah, engga. Nanti aja
bilangnya.”ucap Fahri dan melajukan mobilnya mengantar Citra pulang.
“Hihh seneng banget
bikin orang penasaran.”kesal Citra. Fahri terkekeh dan mengusap puncak kepala Citra.
“Kamu jangan ngambek
gitu, jelek.”
“Terserah bapak aja
deh.”
“Sebenarnya gak mau dipanggil bapak sama kamu.”
“Yaudah, kakak.”
“Gak mau juga.”
“Ya terus apa dong?”tanya Citra bingung.
“Nggak deh” Jawab Fahri
singkat.
"Ishh apa deh?"
"Saya-ng" jawab Fahri sengaja mengeja.
Blushhh---
"Apa sih kak."seketika Citra tersenyum dan mengalihkan pandangannya kejalanan. Ia tak mau Fahri melihat pipinya yang memerah. ia malu. benar-benar malu. sementara Fahri tersenyum lebar melihat citra seperti itu.
“Oiya, nanti besok jam
berapa kak?”tanya Citra
“Pagi ya, biar gak
macet. Bunda juga ikut.”
“Bunda? Duhh malu kak.”
“Gak usah malu, bunda
udah tau kamu kok.”
“Iya kak tapi kan tetep
aja malu.”
“Yaudah tar kakak ajak
novi.”
“Mmm ok kak.”
“Heyy kamu laper gak?”tanya
Fahri.
“Laperr hehee.”cengir Citra
memperlihatkan deretan giginya.
“Bakso yuk.”
“Ayokk.’ucap Citra
bersemangat.
Setelah sampai ditukang
bakso Fahri memesan dua porsi bakso.
“Kamu mienya campur
gak?”
“Mie kuningnya aja
kak.”
“Minumnya?”
“Terserah kakak.”
"Ok, bang bakso nya 2
ya pake mie kuningnya aja. minumnya jus mangga.”
“Siap pak.”ucap tukang
bakso itu.
Fahri dan Citra memilih
tempat duduk dekat jendela. Tak lama setelah itu, pesanan mereka pun sampai.
“Jangan pedes-pedes,
kasian lambung kamu.”ucap Fahri saat Citra akan memasukan sambal dalam
baksonya.
“iyaiya kak.”
Merekapun mulai
menyantap baksonya dan setelah itu mereka pulang.
Setelah Fahri
mengantarkan citra pulang, iya mampir ke supermarket membeli beberapa macam
camilan untuk besok. Takut-takut Citra laper dan pengen ngemil kan? Tapi
sebenarnya bunda juga sedang bikin brownies untuk besok. Tapi apa salahnya kan
membeli camilan lain?
Setelah Fahri membayar,
ia segera pulang.
“Gimana ri? Citra mau?”
tanya bundanya saat Fahri menghampiri.
“Mau bun.”Fahri
mengangguk senang.
“Ada yang bisa Fahri
bantu bun?” tanya ahri saat bundanya membuat brownies. Bunda menggeleng.
“Ini udah beres kok.
tinggal tunggu mateng aja.”Fahri mengangguk. Ia tak sabar untuk menanti hari
esok.
Fahri berniat untuk
mengirimkan pesan pada Citra. Tapi ia mengurungkan niat itu. akhirnya ia
memilih untuk pergi ke kamarnya dan tidur. Hari ini begitu melelahkan menurut Fahri.
***
“Cit, kamu udah
sarapan?”tanya Bu Nisa.
“Udah kok tante.”
“Panggil bunda
aja.”pinta Nisa.
“Ehh—iya bunda.”
“Maaf ya Novi malah gak
jadi ikut. Dia harus pergi nganter mamanya katanya.
“Iya bun, gakpapa kok”
Saat ini Citra, Fahri,
dan bunda sudah dalam perjalanan menuju tempat
yang dituju…
“Oiya bunda bikin
brownies, cobain ya.” Bunda mengeluarkan brownies dan Citra memakannya.
“Wahh enak bun, boleh
gak kapan-kapan Citra belajar sama bunda?”
“Iya sayang boleh dong.”ucap
bunda tersenyum.
Setelah 1 jam
perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dan sampailah mereka
disebuah rumah yang indah dan nyaman.
“Ini rumah siapa kak?”
“Ini rumah kakak, Cit.”
“Oh kakak punya rumah,
kakak mau pindah?”tanya Citra.
“Iya mau, tapi nanti.”
Citra mengangguk.
“Kamu gak mau nanya
kapan kakak pindah?”Fahri harus sabar menghadapi Citra yang kadang tidak peka.
“Oh pengen
ditanya?”ucap Citra polos. Arghhh Fahri gemasss…
Fahri berniat untuk
mengambil beberapa berkas yang tertinggal dirumah ini, memang setiap seminggu
sekali ada orang yang bertugas membersihkan rumah ini agar selalu rapi dan
terawat. Fahri mengajak Citra dan bundanya bukan hanya sekedar melihat rumahnya, tapi mengajak mereka untuk berlibur akhir pekan. Menurut Fahri disini
udaranya masih bersih, sejuk, dan bebas dari polusi. Ayah tidak ikut, karena
beliau sedang bertugas keluar kota.
“Kalo kakak pindah
sekarang, berati ke sekolahnya harus sepagi apa dong?”
“Kakak ga bakal pindah
sekarang Cit.”
“Terus kapan?”
"Nanti."
"Kapan?"tanya Citra lagi.
"Kamu pengen banget kakak pindah ya hmm?" Citra menggeleng.
“Nunggu kamu.”
"Lahhh? Kok nunggu aku?"
"Jadi milikku."
Part 6, adakah yang masih setia sama cerita ini? hehe...
maafkan jika banyak kekurangan karena masih dalam tahap belajar.
tuliskan komentar mu..
Terima kasih :)