Senin, 04 Maret 2019

NOVEL(PART 6)

CINTA HALALKU

PART 6 




"Semoga kamu adalah masa depanku. Aku disini bersiap menjemputmu."


~Fahri Al Farizi~




“Ayo naik.” Citra pun naik. Tanpa Citra sadari ternyata ada sepasang mata yang memperhatikannya.siapa lagi kalau bukan Zidan?

Gue kalah. gumam Zidan dan melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata melampiaskan rasa kesalmya.

“Cit, kamu udah izin mau keluar?”tanya Fahri

“Udah ko pak, tadi aku udah bilang ke Bang Reza.”

“Ck, jangan bapak dong udahan formalnya.”Fahri terkekeh.

“Heheh iya maksudnya udah kak, tadi udah bilang ke Bang Reza” Citra mengulangi perkataannya.

“Kamu masih pake baju sekolah, ganti dulu gih.”

“Lahh Citra gak bawa baju lagi kak.”

“Tadi kakak udah beli sweater buat kamu, tinggal double aja.”

“Buat aku?” Fahri mengangguk.

“Ada di bangku belakang tar kalo udah nyampe, kamu pake dulu sweaternya.”

“Ok kak.”

Beruntung hari ini tidak terlalu macet, jadi Fahri dan Citra bisa sampai lebih cepat.

“Ayo cit pake dulu, kakak tunggu di luar.”perintah Fahri. Citrapun memakai sweater yang dibelikan oleh Fahri. setelah itu ia keluar menghampiri kepsek mudanya.

“Nah kalo kaya gini kan enak.”

“Enak apanya kak?”tanya citra polos. Ah Citra memang polos, maksud Fahri kan enak memang terlihat seperti pasangan bukan seperti guru dan murid. Lagian Fahri masih muda kok dan mereka terlihat serasi.
Mereka memasuki mall dan langsung mencari buku yang Fahri butuhkan. Mata Citra berbinar melihat novel-novel.

“Mau? Ambil aja Cit.”tawar Fahri.

“Eehh engga kak. Oiya kakak udah dapet bukunya?” tanya Citra. Fahri hanya menunjukan buku yang telah berada ditangannya dan tersenyum. Citrapun mengangguk.

“Udah kak?”

“Udah Cit, ini kamu yakin gamau beli?”Citra mengangguk. Tapi Fahri tetap saja mengambilnya tanpa sepengetahuan Citra, karena dia sudah berjalan duluan.

“Kak, aku tunggu diluar ya.” ucap Citra, sambil menoleh ke belakang. Masalahnya ia ingin ke toilet.
Setelah Fahri membayar buku-buku itu, ia keluar tapi tak mendapkan Citra ada disitu.

“Itu anak kemana? katanya tunggu diluar?” gumam Fahri sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok pujaan hatinya itu.

“Ehh kak Fahri, udah lama kak?”tanya Citra yang tahu-tahu sudah ada dibelakang Fahri.

“Ngga, kamu abis dari mana katanya nunggu diluar?”

“Heheee tadi citra abis ke toilet kak. Maaf ya jadi nunggu.”

“Nih” Fahri memberikan tas berisi novel yang Citra mau.

“Apa ini? Haa—kak Fahri kenapa beliin novel? Kan tadi Citra bilang gak usah.”

“Udah ah bawel ya kamu.”ucap Fahri menjawil hidung Citra.

“Makasih ya kak Fahri, baik deh.”

“Iya sayang.”

“Hahhhh---?”

“Enggakkk.”

“ Pulang kak?”tanya Citra saat mereka sudah meninggalkan toko itu.

“Sabar dong ah, maen pulang aja. kakak laper nih. Kamu laper gak?”tanya Fahri yang memang perutnya sudah keroncongan.

“Lumayan sih kak.”jawab Citra sambil memegangi perutnya.

 “Makan dulu yuk, kamu mau makan apa?”

“Apa aja deh, aku ikut kakak aja.”

“Yaudah ayo.” Fahri membawa Citra ke restaurant langganannya. Jika ke mall pasti Fahri dan keluarganya selalu mampir ke restaurant ini.

“Nih pesen, sepuasnya.” Fahri menyodorkan buku menu  pada Citra.

“Samain aja ya kak.”

“Hmm ok ok.” fahri menyebutkan apa yang ia pesan dan pelayan itu mencatatnya.

“Cit?” Fahri menatap citra lekat. Citra menoleh lalu menundukan wajahnya.

“Kak liatin Citranya jangan kaya gitu, malu…”ucapCitra sambil menutupi muka dengan tangannya.

“Cit liat kakak.” Citra menggelengkan kepalanya dan masih menutupi muka dengan tangannya.

“Ayo lah, kakak ga bakal gigit ko.”canda Fahri.

“Apa?”jawab Citra mulai menatap Fahri.

“Kamu tau?-----“ belum selesai Fahri berbicara tapi Citra sudah memotongnya.

“Enggak.”

“Belom juga ngomong Ra, dengerin kakak nih mau ngomong.”Citra mengangguk. Tapi sepertinya Fahri harus menunda pembicaraannya karena pesanan mereka sudah datang.

“Nanti aja kakak ngomongnya, sekarang makan dulu.” Merekapun menyantap makanan dalam diam. Setelah itu, Fahri berniat akan mengungkapkan perasaannya. Mungkin Citra juga sudah mengetahui, tapi apa salahnya jika mengungkapkan? Dan menurut Fahri itu memang harus dilakukan.

“Cit?”

“Hmm?”

“Tau gak?”

“Apa kak?”

“Kakak suka sama kamu.”

Deg. Aaa Citra bingung harus apa pipinya pasti sudah merah sekarang, ditambah Fahri yang menatapnya lekat. Citra tersenyum kikuk.

“Kakak serius Cit.”
Diam. Citra tak tahu harus menjawab apa.

“Kakak gak bakal ngajak kamu pacaran kok.”
Citra menghela nafas lega.

“Ngajaknya nikah.” Deg deg deg!!!
Aaaa Kak Fahri…. batin Citra berteriak.

“Cit, kakak serius loh.”

“Tapi kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kenapa kakak pilih Citra padahal diluar sana masih banyak perempuan yang lebih dari Citra.”
“Cinta itu ga bisa di paksa Cit, hati kakak udah pilih kamu. Walau banyak perempuan diluar sana yang lebih dari kamu, kakak gak peduli.”

“Tapi citra….”

“Izinin kakak buat buktiin, kalo ucapan kakak gak main-main cit. kakak tau kamu masih sekolah, umur kita beda jauh. Itu bukan masalah buat kakak. Karena cinta gak mandang itu semua kan? “ Citra diam.

“Kamu gak perlu mikirin ini, anggep semuanya biasa aja ya. Kakak gamau ganggu fokus kamu di sekolah

“Tapiii….”

“Udah gak usah banyak tapi. Camkan kata-kata tadi. ok?”
Citra lagi-lagi diam.

“Kebanyakan bengong, ga bagus Cit. yuk pulang.” Fahri mengajak Citra pulang karena hari sudah semakin sore. Lagi-lagi senja memberi kenangan indah.

***

“Cieee novel baru. Kapan beli dek?” tanya Bang Reza saat aku membaca novel pemberian Kak Fahri.
“Kemaren kak.”jawab Citra singkat.

“Bukan tuh bilang mau beli buku. Kan kakak mau nitip juga.”

“Ini juga dadakan kak.”

“Tahu bulat kali ah.”Reza tertawa.

“Gak lucu ih, garing tau…”

“Suka-suka abang dong.”

“Iya deh serah bang eza ajaa.”ucap Citra tapi matanya tetap fokus pada novel.

“Dicuekin tuh gak enak dek.”ucap Reza kesal.

“Citra gak cuekin abang kok.”

“Serah deh…”Reza pura-pura merajuk.

“Ishh gitu aja ngambek, iya iya nih citra udahan baca novelnya.” Citra menutup novel itu sebenarnya ia sangat senang menjahili abangnya.

“Beli ice cream yuk dek.” ajak abangnya tiba-tiba.

“Ko tumben abang ngajak beli ice cream.”

“Pengen beli aja. mau gak?” tawar Reza. Sebenarnya Reza ngiler lihat buku Citra yang cover nya ice cream. Ditambah sekarang cuacanya panas.

Reza payah payah…

“Mau dong….”Citra bangkit dan langsung ikut abangnya membeli ice cream.
Reza membonceng Citra, yapp ia menggunakan motor. Toh jarak supermarketnya tak terlalu jauh.

Citra memeluk pinggang abangnya..

“Bang jangan ngebut sih.”pinta Citra.

“Ini tuh udah biasa dek, gak ngebuttt.”

“Serah abang aja deh.”

Lampu merah.
Semua kendaraan berhenti. Citra memfokuskan arah pandangannya ke sebuah mobil yang Citra kenali.

Kaya mobil Kak Fahri. pikirnya.

Dan ya si pemilik mobil melirik ke arahnya. Ternyata benar saja itu Fahri. Citra salah tingkah, ia semakin erat memeluk abangnya.

“Kenapa dek?”tanya Reza.
Sementara Fahri tersenyum lebar melihat Citra. Fahri tau jika itu abangnya. Jadi ia tak perlu cemburu.

Kakak juga mau dipeluk erat kaya gitu cit. batin Fahri.

Lampu hijau. Semua mulai melajukan kendaraannya.
Reza memakirkan motornya setelah sampai di supermaket.

“Heh tadi kenapa?”

“Apanya bang?”

“Tadi peluk abang kenceng banget di lampu merah.”

“Hahh? Masaa?” Citra tak menyadari.

“Yaiya adekku sayanggg.”

“Hehee maaf bang.”cengir Citra.

“Yaudah yuk deh masuk.” Citra mengalihkan topic pembicaraan. Ia tak mau jika abangnya itu tahu kenapa tadi ia seperti itu.

“Bang Citra mau 2 yah.”

“Sebanyak yang kamu mau juga gapapa dek.”jawab Reza tersenyum.

“Dua aja.”citra mengacungkan ice creamnya.

“Dua anak lebih baik.” reza menirukan iklan.

“Yhaa abang pengen nikah yaa..” reza tak menanggapi citra dan langsung pergi ke kasir untuk membayar belanjaan nya. Sebenarnya bukan belanjaan, hanya 3 ice cream saja.

“Ishh  di tinggal. Nyebelin deh.”

“Dek. Ke taman dulu yuk. Mau gak?” tanya Reza ketika akan mengendarai motornya untuk pulang.
“Yukkk.” Citra menyetujui. Citra pun butuh reflesing. Menjernihkan pikiran dan dari segela hal yang membuat penat.

“Enak ya dek, adem.”seru Reza sambil menikmati ice creamnya.

“Iya adem. Bang Reza ko tumben banget sih ngajak ke taman.”Citra masih heran dengan abangnya.

“Gapapa, abang cuma pengen kesini aja.”

“Abang kalo ada masalah, cerita sama Citra. Ya walaupun Citra cuma jadi pendengar yang baik. tapi kalo Citra ada solusi, pasti diungkapin lah bang.”

“Abang cuma kepikiran kamu.”

“Aku?”

“Iya dek.”

“Emang aku kenapa?”

“Ya gapapa.”

“Ishh aneh deh abang.”

“Kamu rencana kuliah kemana?”

"Mmmm belum tau, Citra masih bingung.”

“Pikirin dari sekarang ya,walaupun masih setahun lagi tapi apa salahnya memantapkan dari sekarang?”Citra mengangguk.

“Kalo nanti kamu udah jauh dari abang, abang gak bisa jaga kamu, gak bisa lindungin kamu.”ucap Bang Reza, terlihat sedih. Apa ini penyebab Reza bersikap sedikit aneh?

“Duhh ko terharu ya.”ucap Citra dan Reza mengusap puncak kepala Citra.

“Oiya, abang lupa. Tentang cowok waktu itu. bener kan?”

“Bener apa bang?”tanya Citra bingung.

“Bener kalo dia suka sama kamu.”
 Hmm mungkin maksud Reza adalah Fahri.
Citra diam…

“Abang juga gak mau kalo kamu sampe disakitin sama cowok.” Begitulah Reza, ia sangat menyayangi adiknya. Takkan ia biarkan ada yang menyakiti adik kesayangannya itu.

***

“Citra, besok kamu bisa keluar rumah?”tanya Fahri.

“Mungkin bisa pak.”

“Ck, jangan formal sayang.”bisik Fahri membuat Citra membelalakkan matanya.

“Ishh Kak Fahri.”

“Hehe maaf maaf, tapi ini udah jam pulang. Jadi it’s ok.”alasan Fahri.

“Oiya emang mau kemana nanti besok?”tanya Citra.

“Liat aja nanti. “

“Gak mau ngasih tau jadi nih?”

“Udah deh, yuk pulang.”

“Bareng?”

“Iya bareng my girl. Kamu tunggu di parkiran aja. saya mau ambil kunci dulu”Citra mengangguk dan berjalan menuju parkiran. Disusul oleh Fahri dibelakangnya.
Semakin hari hubungan Citra dan Fahri semakin dekat. Mungkin sudah banyak yang tahu juga tentang hubungan mereka. Semakin banyak yang bertanya mengenai kedekatan mereka. Apalagi jika disekolah, walau mereka sudah menjaga jarak tetap saja pasti lama-kelamaaan semua akan mengetahuinya. Sulit dipercaya memang, tapi ya inilah kenyataannya.

“Cit.”panggil Fahri setelah mereka berada dalam mobil.

“Iya kak?” Citra menoleh pada Fahri.

“Ah, engga. Nanti aja bilangnya.”ucap Fahri dan melajukan mobilnya mengantar Citra pulang.

“Hihh seneng banget bikin orang penasaran.”kesal Citra. Fahri terkekeh dan mengusap puncak kepala Citra.

“Kamu jangan ngambek gitu, jelek.”

“Terserah bapak aja deh.”

“Sebenarnya gak mau dipanggil bapak sama kamu.”

“Yaudah, kakak.”

“Gak mau juga.”

“Ya terus apa dong?”tanya Citra bingung.

“Nggak deh” Jawab Fahri singkat. 

"Ishh apa deh?"

"Saya-ng" jawab Fahri sengaja mengeja.

Blushhh--- 

"Apa sih kak."seketika Citra tersenyum dan mengalihkan pandangannya kejalanan. Ia tak mau Fahri melihat pipinya yang memerah. ia malu. benar-benar malu. sementara Fahri tersenyum lebar melihat citra seperti itu. 

“Oiya, nanti besok jam berapa kak?”tanya Citra

“Pagi ya, biar gak macet. Bunda juga ikut.”

“Bunda? Duhh malu kak.”

“Gak usah malu, bunda udah tau kamu kok.”

“Iya kak tapi kan tetep aja malu.”

“Yaudah tar kakak ajak novi.”

“Mmm ok kak.”

“Heyy kamu laper gak?”tanya Fahri.

“Laperr hehee.”cengir Citra memperlihatkan deretan giginya.

“Bakso yuk.”

“Ayokk.’ucap Citra bersemangat.

Setelah sampai ditukang bakso Fahri memesan dua porsi bakso.

“Kamu mienya campur gak?”

“Mie kuningnya aja kak.”

“Minumnya?”

“Terserah kakak.”

"Ok, bang bakso nya 2 ya pake mie kuningnya aja. minumnya jus mangga.”

“Siap pak.”ucap tukang bakso itu.

Fahri dan Citra memilih tempat duduk dekat jendela. Tak lama setelah itu, pesanan mereka pun sampai.
“Jangan pedes-pedes, kasian lambung kamu.”ucap Fahri saat Citra akan memasukan sambal dalam baksonya.
“iyaiya kak.”

Merekapun mulai menyantap baksonya dan setelah itu mereka pulang.
Setelah Fahri mengantarkan citra pulang, iya mampir ke supermarket membeli beberapa macam camilan untuk besok. Takut-takut Citra laper dan pengen ngemil kan? Tapi sebenarnya bunda juga sedang bikin brownies untuk besok. Tapi apa salahnya kan membeli camilan lain?
Setelah Fahri membayar, ia segera pulang.

“Gimana ri? Citra mau?” tanya bundanya  saat Fahri menghampiri.
“Mau bun.”Fahri mengangguk senang.  

“Ada yang bisa Fahri bantu bun?” tanya ahri saat bundanya membuat brownies. Bunda menggeleng.
“Ini udah beres kok. tinggal tunggu mateng aja.”Fahri mengangguk. Ia tak sabar untuk menanti hari esok.
Fahri berniat untuk mengirimkan pesan pada Citra. Tapi ia mengurungkan niat itu. akhirnya ia memilih untuk pergi ke kamarnya dan tidur. Hari ini begitu melelahkan menurut Fahri. 

***
“Cit, kamu udah sarapan?”tanya Bu Nisa.

“Udah kok tante.”

“Panggil bunda aja.”pinta Nisa.

“Ehh—iya bunda.”

“Maaf ya Novi malah gak jadi ikut. Dia harus pergi nganter mamanya katanya.

“Iya bun, gakpapa kok”

Saat ini Citra, Fahri, dan bunda sudah dalam perjalanan menuju tempat  yang dituju…

“Oiya bunda bikin brownies, cobain ya.” Bunda mengeluarkan brownies dan Citra memakannya.

“Wahh enak bun, boleh gak kapan-kapan Citra belajar sama bunda?”

“Iya sayang boleh dong.”ucap bunda tersenyum.

Setelah 1 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dan sampailah mereka disebuah rumah yang indah dan nyaman.

“Ini rumah siapa kak?”

“Ini rumah kakak, Cit.”

“Oh kakak punya rumah, kakak mau pindah?”tanya Citra.

“Iya mau, tapi nanti.” Citra mengangguk.

“Kamu gak mau nanya kapan kakak pindah?”Fahri harus sabar menghadapi Citra yang kadang tidak peka.

“Oh pengen ditanya?”ucap Citra polos. Arghhh Fahri gemasss…

Fahri berniat untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal dirumah ini, memang setiap seminggu sekali ada orang yang bertugas membersihkan rumah ini agar selalu rapi dan terawat. Fahri mengajak Citra dan bundanya bukan hanya sekedar melihat rumahnya, tapi mengajak mereka untuk berlibur akhir pekan. Menurut Fahri disini udaranya masih bersih, sejuk, dan bebas dari polusi. Ayah tidak ikut, karena beliau sedang bertugas keluar kota.

“Kalo kakak pindah sekarang, berati ke sekolahnya harus sepagi apa dong?”

“Kakak ga bakal pindah sekarang Cit.”

“Terus kapan?”

"Nanti."

"Kapan?"tanya Citra lagi.

"Kamu pengen banget kakak pindah ya hmm?" Citra menggeleng.

“Nunggu kamu.”

"Lahhh? Kok nunggu aku?"

"Jadi milikku."


Part 6, adakah yang masih setia sama cerita ini? hehe...
maafkan jika banyak kekurangan karena masih dalam tahap belajar.
tuliskan komentar mu..

Terima kasih :)


2 komentar:

NOVEL(PART 6)

CINTA HALALKU PART 6  "Semoga kamu adalah masa depanku. Aku disini bersiap menjemputmu." ~Fahri Al Farizi~ ...