CINTA HALALKU
PART 5
"Kau sudah menjadi pelangi baru dalam hidupku. mewarnai hari-hariku."
~Fahri Al Farizi~
“Vi besok jam berapa?”tanyaku karena besok akan mengerjakan tugas prakarya.
Entahlah sekarang-sekarang memang banyak tugas kelompok. Bahkan aku sampai
bingung kelompokku yang mana karena setiap pelajaran beda pula kelompoknya.
Tapi kali ini aku satu kelompok dengan Novi sedangkan Mita dengan Rani.
“Jam 10 cit. bisa kan?”
aku mengangguk.
“Eh iya. Kalian udah?”
tanyaku pada Mita dan Rani.
“Belum nih, mau kerja
kelompok besok tapi gak bisa. Soalnya mama minta buat temenin belanja hehehee”
“Iya deh yang mau
shopping.”
“Oiya cit, emang bener
kemaren dianter Kak Fahri?”tanya Novi penasaran. Aku malu. Aku maluuuu….
“Mmm iya.”jawabku
singkat. Membuat mereka terus saja menggodaku.
“Cieee cieee.”
“Asikkkk”
“Duhh pengen dianter
doi juga dong.”seru Rani.
“Ishh kalian apa deh.”
“Ko ga bilang-bilang
sih Cit?” tanya Novi.
“Emang harus bilang?"
“Ya ngga juga sih
hehehee.”
Seperti yang sudah direncanakan, hari ini Citra akan
mengerjakan tugas kelompok di rumah Novi lagi. tapi cuacanya sedikit mendung,
seperti kurang mendukung. Tapi ia tetap saja melajukan motor maticnya.
Sebenarnya ini udah mulai gerimis dann…….byurrrrrrr hujan seketika menjadi
deras. Citra tak sempat berteduh dan memang tidak ada tempat untuk berteduh.
Bajunya sudah basah kuyup, tapi ia lihat di sana ada ruko dan berniat berteduh
disana. Beruntunglah rukonya masih tutup jadi tak malu untuk berteduh.
Citra mengirimkan pesan
pada Novi.
Vi,
aku kejebak ujan gimana iniii..
send.
Sementara Novi yang
menunggu Citra kaget mendapatkan pesan bahwa sahabatnya itu terjebak hujan.
Fahri yang kebetulan ada disitu heran melihat Novi yang mendadak hawatir.
“Kamu kenapa?”tanya
Fahri pada Novi.
“Citra kak.”
“Citra? Kenapa Citra?”
Fahri langsung saja jika sudah mendengar kata Citra.
“Mau kelompok kan
disini.”
“Lahh terus? Kenapa
hawatir gitu?
“Kejebak ujan dia kak.”
“APAA?!” Fahri panik. ‘kasian Citra’ ia langsung mengambil
ponsel Novi.
Tunggu disitu!
send.
Fahri langsung melesat
menjalankan mobilnya, tapi saat diambang pintu ia berbalik.
“Vi tanyain, dimana
sekarang? Masa kakak mau jemput tapi gatau orangnya dimana.”
“Yehh kakak sih terlalu
semangat.”Novi terkekeh.
“Cepet vii”
“Sabar kak, ini belom
di bales.”
“Udah belum?” Novi
memperlihatkan balasan Citra pada Fahri. Fahri mengangguk dan bergegas.
Citra kedinginan, hujannya tambah deras dan ia tak tahu
harus bagaimana, Novi menyuruhnya untuk tetap tunggu disitu. Citra tetap
berdiri dan memandangi ponselnya..
“Diii—ngin”gumam Citra
pelan. Bibirnya sudah biru.
“Nih pake.” Tiba-tiba
ada seseorang yang memakaikan jaket ke punggungnya.
Citra mendongak.
“Kak Fahri?”
“Udah lama?”tanya Fahri.
Citra tak menjawab dan malah balik bertanya.
“Kakak ko disini?”
“Udah jangan banyak
nanya, ayo masuk.”
“Tapi baju aku basah
semua.”
“Udah gakpapa. Ayo Cit
naik. Kakak ga tega liat kamu kedinginan gini.”
“Tapi motor aku?”
“Titip disana aja ya?
Disana ada parkiran kan?” Citra mengangguk.
“Mana sini kuncinya.”Citra
memberikan kunci itu pada Fahri.
“Tunggu sebentar.”
Fahri menjalankan motor Citra ketempat parkiran, tak jauh dari situ dan Fahri
pun kembali.
“Udah motornya aman
kok.”
Citra terus memandangi
baju Fahri yang basah. Ia merasa tak enak karena telah merepotkan Fahri.
“Maaf ya kak.”
“Maaf kenapa?”
“Itu baju kakak jadi
basah semua.”
“Udah santai aja, Cit.”
Merakapun masuk kedalam
mobil dan Fahri mulai menjalankan mobilnya. Hujan hari ini memberi kehangatan
untuk Fahri. ia bisa lebih merasakan nikmatnya hujan bersama orang terkasih
disampingnya. Ia menyunggingkan senyumnya dan melirik Citra sekilas.
Makasih
udah ngisi ruang kosong dihati gue. batin Fahri.
***
Hari ini diadakan bazar
makanan, agenda rutin setiap satu tahun sekali di SMA TARUNA, jadi setiap kelas
minimal harus membuat 3 macam makanan tradisional dan nanti panitia akan
menilainya. Mulai dari rasa, tampilan, kebersihan, kerapihan, dan masih banyak
lagi. Semua kelas sudah ada tempatnya masing-masing dan lapangan kali ini sudah
siap menjadi tempat bazar dan sudah dihias sedemikian rupa.
“Ini udah semua kan?”
tanya Rangga.
“Udah kok.”jawab yang
lain.
“Oiya, siapa yang mau
jaga disini?”
“Jangan gue deh.”
“Jangan gue.”
“Jangan gue.”
“Yaudah aku aja.”ucap Citra.
“Ok, sama siapa lu Cit?”
“Sama gue aja.”ucap
seseorang.
“Gila lu mana boleh,
kita beda kelas.”jawab Rangga.
“Gapapa kali kan
deketan ipa 1 sama ipa 2.”
“Tetep ga boleh Zidan,
lu tau peraturannya kan?” Zidan menghela nafas pasrah.
“Ok ok.”
“Yang jaga stand kita
Citra sama Gue aja.”ucap Novi dan semuanya setuju.
Semua sudah pada posisi
masing-masing. Pertama-tama acara ini akan dibuka dengan sambutan dari kepala
sekolah juga pengguntingan pita.
“Aaa bapakkk”
“Duhh bapakk ganteng
banget sih pak.”
“Pakkk jangan senyum
gitu, ga kuat guee.”
“Yang lama ya pak
sambutanya, biar gue bisa liat bapak teruss.”
Anak-anak riuh karena
memang Fahri lah yang memberi sambutannya, Fahri mulai memberikan sambutan dan
membuka acara ini dengan pengguntingan pita. Citra yang dari tadi mendengar
teriakan histeris anak-anak hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Jangan cemburu
loh.”bisik Novi.
“Siapa juga yang
cemburu.”Novi malah cekikikan.
Panitia mulai
berkeliling dan menilai semua makanan, yang menilai adalah kepala sekolah dan 5
orang guru.
Apa? Kepsek? Fahri
dong? Yapp Fahri pun ikut menilai.
Citra menjadi deg-degan.
“Jangan deg-degan,
biasa aja. tenang ada gue.”tebak Novi.
“Apasih Vi.”
“Udah Cit gausah boong,
ketauan tau.” Citra diam tak menanggapi.
Kini giliran kelasnya
yang dinilai.
“Semoga jurinya suka ya
makanan kita dan bisa menang deh.”ucap Novi. Citra mengangguk.
“Kalian buat apa aja?”
tanya Fahri.
“Kami buat pempek,
siomay, cilok, sama es buah, Pak.”jawab Citra sebisa mungkin tak gugup dan yang
pasti jangan sampai keceplosan manggil ’kakak’
Juru-juri mulai mencoba
makanannya dan menilai.
“Enakk.”ucap Fahri.
“Makasih pak.”jawab
Citra dan Novi kompak.
“Oiya, kamu. Kamu siapa
namanya?”
“Saya pak?”tunjuk Citra
pada dirinya sendiri. “Saya Citra Pak.” Fahri bertanya seolah-olah belum
mengenal Citra, dan ia harus terlihat professional. Ia harus bisa menempatkan posisi, situasi, dan kondisi.
“Ok, nanti setelah
selesai acara. Kamu ke ruangan saya ya.”
“Baik, Pak.” Jawab Citra.
Citra sendiri pun bingung mengapa Kak Fahri memanggilnya. Sementara yang lain
riuh..
“Duhh Citt gue aja yang
gantiin lu.”
“Gue aja Cit."
“Gue aja.”
Anak-anak ada disekitar
area bazar riuh karena mendengar perkataan Fahri.
Sementara disebelah
Citra, ada Zidan yang terus memperhatikannya. Jujur, Zidan tak suka.
Apalagi dulu sempat ada
yang bilang bahwa Fahri mengantarkan Citra pulang. Zidan tak tahu berita itu
benar atau tidak yang pasti Zidan tak suka.
Tanpa sadar Zidan
menatap Fahri dengan tatapan tak suka. Fahri pun jelas mengetahui arti dari
tatapan itu. Fahri juga sudah tau jika Zidan memang menyukai Citra.
Setelah
semua makanan dinilai, anak-anak mulai membeli berbagai macam makanan yang ada
dibazar. Sangat ramai. Ada yang menawarkan makanan ada yang menggoreng, ada
yang bolak-balik membawa es batu, air, dan banyak lagi keseruan lainnya
disetiap bazar ini . setelah semua puas, makanan pun habis terjual mereka
berkumpul dilapangan untuk mendengarkan pengumuman sekaligus menutup acara ini.
Oiya, sebelum itu mereka harus membersihan lapangan dari sampah-sampah. Baru
lah mereka berkumpul dilapangan.
“Baik, saya akan
umumkan 3 kelas pemenang bazar makanan ini.”
“Juara 3 dimenagkan
oleh XII IPA 2”
“Juara 2 dimenangkan
oleh XII IPS 1”
“Dan juara pertama
dimenangkan oleh….”Fahri menggantungkan kalimatnya membuat anak-anak tak sabar
ingin mendengarkan kelanjutannya.
“XI IPA…”lagi-lagi Fahri
menggantungkan kalimatnya membuat semuanya gemas sendiri.
“Bapakk ayo dong pak,
penasaran kita”
“Yahh XI IPA, kita gak
dapet guys.”ucap anak XI IPS.
“IPA berapa nih pak?”
“Ahh bapak bikin
penasaran aja.”
“XI IPA 1” fahri
melanjutkan perkataannya. Semua anak XI IPA 1 berteriak kegirangan.yaa benar
itu memang kelas citra. Etsss… tapi ini memang murni penilaian para juri, bukan
fahri yang menyuruh atau hal-hal curang lainnya. Fahri menutup acara ini dan
semuanya berjalan dengan lancar.
Fahri kembali ke
ruangannya dan yang pasti menunggu pujaan hati.
“Cit, pulang bareng
yuk!” ajak zidan ketika citra sudah berada di luar kelas.
“Duluan aja dan.”tolak Citra.
“Lo mau pulang juga
kan?”Citra mengangguk.
“Terus kenapa?”
“Gakpapa.”
Tiba-tiba novi teriak
dari dalam.
“Ehh Cit jangan lupa
loh ke ruang kepsek dulu---- upssss.” Novi kaget ternyata disitu ada Zidan.
Novi pun sudah tau jika Zidan tak suka dengan kepsek baru itu, yang tak lain
adalah kakak sepupu Novi. Belum banyak yang tahu, hanya Novi dan
sahabat-sahabatnya saja.
“Yaudah aku
duluan ya.”Novi mengangguk sedangkan Zidan? Ia hanya menatap Citra yang semakin
menjauh.
Apa
gue harus bener-bener buang rasa cinta ini Cit? gue udah coba. Tapi gak bisa.
batin Zidan.
Tok..tok…tok…
“Masuk.”
“Assalamu’alaikum Pak.”
“Wa’alaikumsalam.
Duduk.”perintah Fahri.
Citra pun duduk.
“Ada apa pak?”
“Kamu mau anter saya?”
“Kemana pak?”
“Beli buku.” Citra
mengangguk senang.
“Yaudah yuk.”
“Ehh tapi kalo diliatin
gimana? Citra dulu yang keluar ya. Baru bapak.” Fahri tertawa pelan.
“Yaudah iya kamu dulu.”
Citra keluar dan
disusul oleh Fahri. Fahri segera memarkirkan mobilnya dan Citra menunggu di
dekat halte.
“Ayo naik.” Citra pun
naik. Tanpa Citra sadari ternyata ada sepasang mata yang memperhatikannya.siapa
lagi kalau bukan Zidan?
Part 5, gimana gimana? maaf jika jauh dari kata sempurna. masih belajar :)
ku tunggu komentarnya. terima kasih :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar