Disini aku buat cerita, siapa tau suka๐ baca yuk!
Cerita ini tentang perjuangan Fahri dalam meraih kesuksesan. Tak mudah memang dan sangat membutuhkan pengorbanan juga perjuangan yang besar. Tapi ia tak menyerah dan putus asa. Ia tetap semangat dan akhirnya semua usaha yang telah ia lakukan berbuah manis. Bahkan sangat manis.
Ok, happy reading๐
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, semua kisah yang terjadi akan tetap melekat dalam pikiran, takkan terhapuskan, selalu ingin dikenang dan takkan pernah terlupakan. Itulah yang sedang dirasakan Fahri. Hari ini adalah hari perpisahan di SMK TUNAS BANGSA, tempat ia menimba ilmu. Fahri adalah salah satu siswa yang memiliki segudang prestasi, pintar bermain musik, suaranya merdu, jago basket, berbagai lombapun sering ia ikuti, dan hasilnya? Ia selalu memenangkannya. Satu sekolah ini mengenal sosok Fahri. Siswa yang telah berhasil mengharumkan nama sekolah dan selalu memberikan yang terbaik. Selain itu, Fahri mempunyai wajah yang tampan, berperawakan tinggi,, cool, siapapun wanita yang melihatnya pasti akan tergila-gila. Tapi, ia bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta. Jadi, sikapnya begitu dingin dan cuek pada wanita. Kecuali pada ibu dan adiknya. Ia begitu hangat dan sangat perhatian.
Namun keadaan hatinya sekarang ini begitu resah,bimbang, dan tak menentu. Ya, memang itulah keadaan hatinya saat ini. Ia bingung harus senang atau sedih? Senang karena ia akan segera lulus dan bekerja atau sedih karena akan meninggalkan zona nyamannya? Ya, Fahri memutuskan untuk bekerja setelah lulus nanti. Ia sadar semua ada masanya, perlahan-lahan ia akan tahu kehidupan yang sebenarnya. Semua kenangan yang telah terjadi seperti kaset yang tengah diputar dalam otaknya.
Drttt... drttt....
Hpnya bergetar, menyadarkan dari lamunannya dan ia segera mengangkat panggilan dari Oki, sahabatnya.
“Fahri, lo dimana? Belom berangkat kan? Gue nebeng."
"Waalaikumsalam."ucap Fahri datar.
“Eh hehe, lupa bro. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Iya tar gue ke rumah lo."
Tuttt.. tuttt...tuttt...
Sambungan terputus, Fahri hanya menggeleng-gelengkan kepala saja karena kelakuan sahabatnya itu yang belum bisa berubah.
Ia sudah siap dengan penampilannya dan segera bergegas keluar dari kamarnya.
"Maa syaa Allah, anak ibu ganteng banget."ucap ibunya tersenyum.
“Wah, merasa tersaingi nih."canda ayah.
Fahri hanya tersenyum menanggapi ibu dan ayahnya.
"Ayo kak, sarapan!"ajak Syifa.
Fahri mempunyai satu adik perempuan. Syifa namanya. Usia mereka terpaut 5 tahun. Ia baru saja masuk sekolah menengah pertama. Lebih tepatnya akan masuk jenjang itu. Fahri sangat menyayangi Syifa, begitupun sebaliknya. Kakak adik yang satu ini begitu kompak. Apa kalian juga kompak dengan kakak/adik kalian? Atau sebaliknya? Hehe.
“Kakak udah telat dek, maaf ya." tolak Fahri halus dan mengelus puncak kepala adiknya.
Syifa hanya mengangguk pasrah.
"Bu, Yah Fahri berangkat ya. Sarapannya nanti aja. Assalamualaikum.”pamit Fahri mencium tangan ibu dan ayahnya.
“Waalaikumsalam."
Fahri mulai membelah kota Jakarta dengan motor sportnya, ah ya, dia juga harus menjemput Oki dulu kan? Sebenarnya hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di sekolah karena jarak dari rumah ke sekolahnya pun tak begitu jauh tapi sekarang ia harus menjemput sahabatnya itu jadi ia harus berbelok arah menuju rumah Oki.
Tok..tok..tok...
"Assalamualaikum."ucap Fahri.
"Wa'alaikumsalam."jawab seseorang dari dalam rumah.
" Eh Mas Fahri. Silakan masuk. Mas Okinya ada di dalam.”ujar Bi Inem. Bi Inem adalah asisten rumah tangga kelurga Oki, maklum saja orang tuanya selalu sibuk dan jarang ada waktu dirumah.
"Iya bi, makasih ya." Fahri pun masuk.
"Gue kira lo udah siap"ucap Fahri saat melihat Oki masih sibuk dengan dasinya.
"Sorry bro, yaudah yok berangkat!" Oki menepuk bahu Fahri. Fahri mengangguk dan mereka segera keluar rumah.
Tak membutuhkan waktu lama unruk sampai disekolah dan ketika sampai di lingkungan sekolah, mereka ternganga melihat dekorasinya, sangat megah.
It's so beautiful.
"WOY, AWAS LALER MASUK." ucap seseorang. Merekapun tersadar dari rasa takjubnya.
"Rese lo."kesal Oki.
Ryan terkekeh pelan, ya dia adalah sahabat Fahri dan Oki. Mereka bertiga adalah idolanya para wanita di sekolah ini. Mungkin karena ketampanan nya, kejeniusannya atau keahliannya? Entahlah, yang jelas mereka seperti incaran para wanita tapi sayangnya, mereka tak peduli itu. Kalian tahu karena apa? Pertama, mereka tak ingin menjatuhkan hati kepada orang yang salah. Kedua, baginya pacaran membuat hidupnya semakin tak karuan. Ketiga, lebih baik langsung datangi walinya dan menghalalkan putrinya. Yap itulah prinsip mereka. Mereka tak ingin menyakiti dan mempermainkan wanita. Laki-laki sejati itu sangat menghargai dan mengormati wanita, melindungi, dan menjaganya bukan merusak atau menyakitinya. Bukankah begitu? Setuju ladies?
"Ayo kita masuk aja, kayanya udah mulai."ajak Fahri.
"Mulai apa? Paling ngaret, lo tau kan kebiasaan orang indonesia?"ketus Ryan.
"Masih pagi ini, jangan esmosi dong, Yan. Sabar- sabar."ucap Oki mencoba menenangkan.
"Emosi Ki emosi." ucap Fahri membetulkan perkataan oki.
"Nah, iya. Itu gue maksud."
"Maksud gue Oki Suroki."ucap Fahri lagi. Oki hanya nyengir kuda.
"Gue gak emosi, Cuma kesel aja."jawab Ryan datar. Fahri sudah mengerti watak sahabat-sahabatnya ini, Ryan yang sangat disiplin, jadi dia tak suka sangat tak suka dengan katatelat atau ngaret dan Oki yang memang senang bercanda. Oki lah yang pandai mencairkan suasana.
"Hey, cepet masuk. Acara udah mau mulai."ucap salah seorang guru.
"Iya, Pak."
Sekolah sudah ditata sedemikian rupa terutama ruangan yang akan dipakai untuk acara ini.
"Wow, bagus banget gila! penata ruangannya professional nih. "kagum Oki ketika memasuki ruangan yang dipakai untuk acara ini.
Fahri hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya. Para siswa-siswi yang sudah hadir dipersilakan untuk duduk. Pukul 08.00 acara dimulai, susunan acara demi acara berjalan dengan lancar dan khidmat. Ketika sampai dipenghujung acara, Fahri terkejut saat namanya disebutkan oleh pembawa acara karena menjadi salah satu siswa tebaik disekolahnya.
“FAHRI AL-FARIZI"
Seisi ruangan riuh oleh tepuk tangan dan ia pun dibanjiri oeh ucapan selamat dari teman-temannya. Apalagi para wanita, mereka teriak histeris.
“AAA FAHRI, LO EMANG HEBAT. UDAH GANTENG PINTER LAGI. CONGRATS RI!!!"
"PACAR GUE EMANG THE BEST."
"WOY LU NGAKU-NGAKU AJA. MANA MAU FAHRI SAMA LU."
"YE SUKA-SUKA GUE."
"IDAMAN BANGET DEH SAYANGNYA GUE."
"NGIMPI LU."
"FAHR LO THE BEST BANGET ASLI, GA BOONG."
"PAKET KOMPLIT."
"AYAM KALI AH PAKET KOMPLIT."
Itulah sedikit kehisterisan fans-fans Fahri dan masih banyak lagi kehisterisan lainnya. Sementara yang lain, mengucapkan selamat dengan sewajarnya saja tak heboh seperti yang sebelumnya. Acarapun telah usai, kini kenangan hanyalah tinggal kenangan, biarlah masa-masa indah itu tersimpan rapih dalam ingatan. Sekarang saatnya berjuang meraih impian tuk masa depan gemilang. Setelah lulus ini, ia ingin segera bekerja. Tekadnya sudah bulat dan secepatnya akan mengirimkan lamaran surat pekerjaan ke perusahaan-perusahaan yang ada di kota. Memang, jika dilihat dari berbagai prestasi yang ia dapatkan sangat disayangkan kalau ia langsung bekerja. Padahal ia bisa menggali lebih dalam lagi segala kemampuan, potensi, dan bakatnya tapi apa boleh buat Fahri tetaplah Fahri ia teguh pada pendiriannya dan tak ada seorangpun yang mampu menggoyahkannya. Kedua orangtuanya pun sudah setuju jika anaknya memutuskan untuk bekerja karena mereka yakin anaknya sudah mampu untuk berpikir dewasa dan apa yang terbaik untuk dirinya. Toh kesuksesan bisa dicapai jika kita mau berusaha, kerja keras, dan berdoa.
Beberapa bulan kemudian, ia dinyatakan diterima menjadi karyawan di salah satu perusahaan besar. Ia berpamitan untuk memulai kehidupannya yang baru, jauh dari orang tua, dan belajar untuk menjadi lebih mandiri. Harus siap dengan segala tantangan dan rintangan karena semua itu harus dihadapi bukan dihindari. Itulah laki-laki sejati.
"Ibu, ayah Fahri pamit ya. Doakan Fahri."
"Iya, Nak. Kami pasti selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”ucap ibu yang terlihat berat melepas anak laki-lakinya itu.
"Terima kasih ayah, ibu. Assalamualaikum." Fahri memeluk ibu dan ayahnya bergantian dan pergi meninggalkan mereka.
“Waalaikumsalam."
"Fahri." ucap ibu lirih setelah Fahri mulai menjauh matanya berkaca-kaca. Terlihat ayah merangkul ibu dan mencoba menguatkannya.
Nah syifa? Bagaimana dengan Syifa?
Tenang saja, Fahri sudah berpamitan saat Syifa akan pergi sekolah, ia bahkan menangis dan terus memeluk erat Fahri. Kakak yang selalu ada untuknya, kakak yang sangat disayanginya kini harus jauh darinya.
Ketika Fahri sudah sampai di kota, ia segera menghubungi ibunya, ia juga sudah mendapatkan tempat tinggal disana.
Fahri mendial nomor ibunya.
"Assalamualaikum, Bu. "
"Waalaikumsalam. Kamu udah nyampe, Ri?"
"Alhamdulillah udah, Bu."
"Alhamdulillah. Kamu jaga diri baik-baik disana ya, jaga kesehatan kamu." terdengar nada khawatir dari ucapan ibu.
"Iya bu Fahri pasti bisa jaga diri baik-baik ko. Ibu tenang aja yah."
"Iya, Nak. Yaudah kamu istirahat. Cape kan?"
"Iya bu, nanti lagi ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. "
***
Hari demi hari ia lewati, betapa sulitnya jauh dengan orang-orang yang kita cinta dan sayangi. Fahri harus hidup mandiri, kabar baiknya ia termasuk orang yang mudah bersosialisasi jadi tak begitu sulit untuk beradaptasi. Sekarang, ia lebih sibuk dengan pekerjaan yang dijalani dan tetap melakukan semuanya dengan sepenuh hati. Dengan segala kesibukan yang ia jalani terkadang rasa rindu pada kampung halaman menghampiri tapi ia harus bisa mengalahkan egonya sendiri. Komunikasi adalah salah satu obat untuk kerinduan hati. Setiap hari libur Fahri selalu menghubungi keluarganya, entah itu menanyakan kabar, berbagi cerita, dan lain sebagainya karena itu sangat membangkitkan semangat dan mengobati kerinduannya. Tak mudah melewati itu semua. Terkadang hidupnya terasa hampa, walaupun ia sibuk dengan aktivitas yang dijalaninya tapi masih ada ruang kosong dalam hatinya. Entah siapa yang akan mengisi kekosongan ini. Sore hari, ia berniat untuk pergi keluar, sekedar jalan-jalan atau mencari makan karena perutnya sudah keroncongan dan melupakan sejenak perihal hati yang sepi.
Baru saja ia membuka pintu, Fahri melihat seorang gadis cantik berjilbab biru sedang menyiram bunga. jelaslah Fahri nelihatnya karena memang rumahnya berhadapan dengan rumah gadis itu.
Jarang-jarang ada yang mau bantuin kerjaan rumah, biasanya kan cewek itu hobbinya shopping, hunting. Pikir Fahri.
Apalagi ini di kota besar yang notabene anak-anaknya pasti bergaya hidup mewah. Memang sih tak semua seperti itu, tapi kebanyakan begitu.
“Heyy Fahri, ngapain ngelamun gitu?"tanya Bu Lusi. Fahri pun tersadar. Bu Lusi adalah pemilik rumah yang ia tempati beberapa bulan ini. Mungkin bisa dibilang ibu kost Fahri.
"Ehh enggak bu hehe." Cengir Fahri.
Hmm tapi sebentar-sebentar, ia baru sadar jika itu adalah rumah Bu Lusi, maksudnya gadis itu mmm apakah gadis itu anaknya Bu Lusi? Tapi mengapa Fahri jarang melihatya? Oh lebih tepatnya, baru melihatnya.
"Iya, itu anak saya."ucap Bu Lusi tersenyum seperti tahu isi pikiran Fahri. Sebenarnya Bu Lusi melihat dari tatapan Fahri yang fokus pada anak sematawayangnya. Ia bisa menilai bahwa Fahri adalah anak yang baik-baik, sopan, dewasa, tak mudah putus asa, bijaksana, giat bekerja, disiplin, dan masih banyak lagi.
“Oh, saya baru tau, Bu." ucap Fahri menghampiri Bu Lusi.
"Beberapa bulan ini dia memang sibuk sama sekolahnya, Ri. Jadi ya di dalem aja deh. Ngerjain tugas mulu. Ibu sampe pusing liatnya." Bu lusi terkekeh pelan.
"Oh, pantesan Fahri ga pernah ketemu ya. Kelas berapa, Bu?"
"Kelas 3 SMA, Ri. Citra, sini kenalan sama bang Fahri."ucap Bu Lusi.
Citra yang merasa dipanggil pun menoleh dan menghampiri ibunya..
"Ada apa ma?" Citra tak sengaja melihat lelaki di samping ibunya, pandangan mereka bertemu. Namun keduanya segera mengalihkannya. Bu Lusi yang melihat itu dengan jelas hanya tersenyum penuh makna. Ia tahu bagaimana rasanya karena ia pun pernah muda. Baik Fahri maupun Citra merasakan hatinya bergejolak, mereka tak tau apa artinya. Padahal bertemu saja baru kali ini tapi mengapa seperti magnet yang berlainan kutub? Saling tarik-menarik.
Sikap dingin dan cuek pun hilang begitu saja dalam diri Fahri ketika bersama Citra.
obrolan-obrolan santai disore hari bersama orang yang dicintai rasanya begitu indah.
Apa? Cinta? Apa iya Fahri jatuh cinta pada Citra? Hati memang tak bisa berbohong. Cinta itu fitrah. Ia tak mampu mengendalikan kepada siapa hatinya akan berlabuh.
Setelah cukup lama berbincang dengan Citra, Fahri pamit untuk pulang.
***
Hari sabtu, harusnya libur tapi ia lembur. Biasanya mood Fahri akan memburuk jika ada pemberitahuan tiba-tiba para karyawan harus lembur. Terkadang kecewa karena semua rencana akhir pekannya tertunda.
Tapi sekarang? Senyum selalu terpancar di wajah Fahri. Gadis cantik bernama Citra lah yang telah berhasil membuat keadaan hati Fahri membaik.
Ketika akan berangkat kerja, ia bertemu dengan Citra yang membawa sayuran. Sepertinya habis belanja.
Calon istri yang baik. gumamnya.
"Bang Fahri, kenapa mukanya ditekuk?"
"Biasalah cit, lembur dadakan."
"Yaudah bang Fahri semangat dong. Jangan letih lesu gitu."
"Iya cit, semangat!!!”
"Nah gtu dong, semangat cari rezeki hehee."
“Iya buat kamu."
"Lah kok buat aku?"
“Buat halalin kamu maksudnya."
"Gak lucu ah bang."
"Yee siapa juga yang lagi bercanda, yaudah bang Fahri berangkat dulu ya.” Citra mengangguk.
Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan sesuai tujuan masing-masing. Fahri bekerja sedangkan Citra pulang ke rumah. Pasti mamanya sudah menunggu belanjaannya ini.
Dasar bang Fahri, bisa aja bikin orang baper. Batin citra
.
***
Senin pagi, ia harus mulai bekerja lagi. Sebenarnya saat ini suasana hati Fahri sangat tidak menentu. Ia gelisah, sangat gelisah. Melihat diberbagai media bahwa Indonesia mengalami krisis ekonomi, ia takut ini akan berdampak buruk pada pekerjaannya.
"Woy! Lu kenapa ngelamun terus?" tanya Rangga, teman kerjanya.
"Gue gapapa." jawab Fahri termenung.
"Boong lu! Gue tau kok. ya semoga kita ini aman-aman aja." ucapnya menepuk bahu Fahri.
Benar saja apa yang dikhawatirkan memang terjadi, banyak karyawan-karyawan yang di PHK termasuk dirinya. Sedih? Tentu. Sudah lama ia bekerja dan sudah nyaman dengan pekerjaan ini banyak suka duka yang sudah ia lewati tapi ia harus berhenti. Fahri pun pulang dengan wajah yang menyiratkan kesedihan dan kekecewaan. Bahkan ia terlihat sangat tak bersemangat, sangat letih dan lesu. Citra yang melihat itu dari dalam rumahnya langsung terheran-heran.
“Bang Fahri kenapa?"gumamnya. Ia pun segera keluar rumah dan menghampiri Fahri. Namun ia ragu untuk mengetuk pintu rumah itu. Citra pun berbalik dan kembali ke rumahnya. Baru saja beberapa langkah, ternyata ada seseorang yang memanggilnya.
“Citra?"
Citra pun menoleh dan menunjukan deretan giginya. Ia gugup. Tercyduk akhirnya. Malu, ia malu dan tak bisa menyembunyikan pipi nya yang memerah.
"Ada apa cit? muka kamu ko merah gitu? Kamu lagi sakit?"tanya Fahri polos. Lebih tepatnya pura-pura polos. Fahri tau jika Citra blushing dan menurutnya itu sangat menggemaskan tapi Fahri pura-pura tak tahu saja.
"Gak ada apa-apa ko bang. Citra pulang ya."pamit citra segera berbalik
Fahri menaikkan sebelah alisnya.
"Tunggu." tahan Fahri. Citra berhenti dan kembali berbalik. Sebenarnya Fahri berniat untuk pamit dan mungkin ia akan jarang berkunjung kesini lagi tapi niatnya ia urungkan, mungkin besok saja.
Fahri menggelengkan kepalanya
"Engga, Cit. Gak jadi." terlihat Fahri tersenyum namun terpaksa. Citra bisa merasakan itu.
Sepertinya bang Fahri sedang ada masalah. Tebak Citra dalam hatinya.
Keesokan harinya, ia berpamitan dengan orang-orang disekitarnya, termasuk berpamitan dengan keluarga Citra. Semuanya sangat terkejut Fahri akan pindah dari sini. Tergambar sangat jelas kesedihan di wajah Citra. Itu artinya ia tak dapat bertemu dengan Fahri lagi.
Baru saja kemarin ia merasakan cinta, apa sekarang ia harus mengubur perasaannya? Hancur sudah hatinya ditinggalkan orang terkasih. Apakah ini yang dinamakan cinta lokasi? Apa cinta ini akan berlanjut dan dia akan kembali? Entahlah, kita lihat saja nanti.
***
"Tetap semangat, Fahri! Tetap bersabar dan mintalah yang terbaik kepada-Nya. Yakinlah, disetiap kesedihan Allah akan ganti dengan kebahagiaan." ucap ayah. Yap, Fahri kini telah kembali ke kampung halamannya, menceritakan apa yang terjadi kepada keluarganya.
"Iya yah, Fahri yakin."
Ia tak boleh menyerah, ini belum seberapa. Semangat Fahri pun bangkit lagi. Ia menyiapkan berkas-berkas untuk melamar pekerjaan. Ia akan mengirimkan surat lamaran keberbagai perusahaan lagi di kota-kota besar, demi asa harapan dan mimpi yang ingin ia capai dan raih walau proses itu masih abu-abu untuk saat ini pikirnya. Hari demi hari ia jalani, dari satu kota ke kota lain ia telusuri demi mendapatkan pekerjaan lagi, usaha harapan doa dan tekad yang kuat adalah dasar ia merantau dan kembali bangkit untuk kondisi yang tengah ia hadapi. Setelah banyak proses yang ia lewati untuk mendapatkan pekerjaan lagi kini ia berhasil masuk dalam kandidat calon karyawan di tiga perusahaan. Ia berharap bisa diterima disalah satunya. Sebelum berangkat untuk tes kerja dan kembali merautau lagi, ia tidak lupa untuk memohon restu dan doa orangtuanya, mereka pun selalu mensupport selama itu baik untuk masa depan anaknya.
Sejenak Fahri melupakan perihal hati, ia tahu ada mimpi yang harus ia raih, ada banyak harapan yang harus ia wujudkan, ia harus BANGKIT, BERJUANG, DAN MERAIH KESUKSESAN!!!!
Hari ini Fahri mengikuti interview di perusahaan pertama yang sangat diidam-idamkannya yaitu di ASTRA GROUP, ia sangat optimis bisa bekerja di tempat ini. Segalanya sudah ia persiapkan. Saat Fahri menunggu gilirannya, teman-temannya riuh bertanya pada teman lain yang sudah di interview dan itu membuat Fahri kebingungan, memilih jawaban sendiri atau jawaban yang dikatakan temannya tadi. Saat gilirannya tiba dan mendapatkan pertanyaan yang ia dengar tadi, ia menjawab dengan sangat tidak memuaskan bahkan parahnya ia sempat terdiam beberapa saat untuk menjawab pertanyaan.
"arghhhhhhhh." ucapnya mengacak rambut frustasi saat keluar dari ruangan.
Ketika diumumkan namanya tak disebutkan, berarti ia belum beruntung untuk bekerja di tempat ini. Fahri tak putus asa, dia masih punya 2 kesempatan lagi. Sayangnya, diperusahaan kedua pun ia gagal. Semangatnya mulai menurun, hanya tinggal 1 kesempatan dan perusahaan itu sama sekali bukan yang ia harapkan, ia ragu untuk melamar di perusahaan itu karena banyak kabar-kabar miring yang ia dengar.
Awal September , ia mengikuti tes di perusahaan ke tiga. Ternyata di perusahaan ini harus mengikuti berbagai tes, seperti psikotes, fisik, dan lain-lain. Ia mengikuti tes pertama dan akhirnya lolos. Dilanjutkan dengan tes fisik, banyak yang gagal dalam tes ini. Semuanya harus berguling-guling dan berlari, mereka juga harus makan. Ya, makan makanan yang dicampur air bahkan yang lain tak kuat dan memuntahkan makanannya.
"oekkkkkkk"
"oekkkkkkk."
Fahri tak boleh menyerah, ia harus mengikuti tes-tes ini dengan sebaik mungkin, ia selalu memohon pertolongan-Nya.
Gue harus bisa! Bismillah. gumamnya.
Ia melihat makanan yang ada dihadapannya dan langsung melahapnya tak peduli dengan apa yang ia makan. Dengan mata terpejam saat mengunyah dan menelan ia menghabiskan makanannya.
Saat semua tes sudah diikutinya, ia gelisah saat menunggu pengumuman, ia khawatir ditolak lagi takut harapannya pupus lagi. Setelah lama menunggu akhirnya Fahri dinyatakan lolos dan diterima ditempat ini.
Alhamdulillah. ucap Fahri menghembuskan nafas lega.
Semua calon karyawan yang sudah diterima, berkumpul di salah satu ruangan dan ada seorang petugas yang mengumumkan bahwa mereka akan bekerja awal tahun depan. Sontak mendengar kabar itu banyak calon karyawan termasuk Fahri dan yang lainnya menjadi "SHOCK"berat, wajar mengingat mereka berpikir setelah beratnya proses yang dijalani dari awal hingga titik ini mereka akan segera bekerja.
"Parah, gue kira bisa langsung kerja."ucap Rendy.
"Mengecewakan." timpal Gio.
"Ahh gilaa!"ucap Tomi.
Apalah daya, mereka tak bisa merubah keputusan management, begitu pikir Fahri. Ia harus menunggu 3 bulan lagi untuk bisa bekerja. Menunggu. Lagi dan lagi.
Sabar sabar. gumam Fahri menyemangati dirinya sendiri.
***
Setelah lama menunggu, akhirnya ia bisa bekerja diperusahaan ini, ia senang, nyaman. Bahkan sangat nyaman. Ia bisa merasakan hangatnya kekeluargaan, kebersamaan, kekompakkan, eratnya persaudaraan dan masih banyak pelajaran yang ia dapatkan. Kabar-kabar miring yang ia dengarpun tak benar. Intinya, jangan menduga-duga jika belum mengetahui situasi sebenarnya.
Ia selalu meningkatkan kualitas kerjanya, tanggung jawabnya, kedisiplinannya, kejujuran, dan segalanya ia lakukan dengan semaksimal mungkin karena ia yakin hasil takkan pernah menghianati proses, takkan ada usaha dan kerja keras yang sia-sia.
***
Akhirnya, tak terasa ia sudah 10 tahun ia bekerja dan berhasil diangkat menjadi DIREKTUR di perusahaan ini. Ia tak menyangka bisa mendapatkan ini semua. Fahri selalu mengucap syukur atas semua yang telah ia dapatkan karena pertolongan dan kemudahan yang telah Allah beri, ia pun berterimakasih pada orang tuanya yang selalu mendukung dan mendoakannya hingga ia menjadi SUKSES seperti sekarang ini. Tak semudah yang dibayangkan bisa mendapatkan semua itu, semuanya pun bertahap ada prosesnya hingga ia bisa mencapai kejayaan. Situasi pahit, manis, pedih, suka, dan duka kehidupan sudah ia rasakan, semua ia hadapi dengan kesabaran dan keihklasan. Ingatlah, jangan pernah menyerah dengan segala kesulitan, karena hidup itu butuh perjuangan dan pengorbanan.
KESUKSESAN BUKAN DILIHAT DARI JUMLAH UANG DAN MATERI YANG ENGKAU PUNYA, KESUKSESAN SEJATI ADALAH SAAT ENGKAU MAMPU BANGKIT KETIKA TERJATUH, DAN BISA MEMBERI ARTI BAGI MEREKA YANG KAU CINTAI DAN ORANG ORANG YANG MEMBUTUHKAN.
-FAHRI AL-FARIZI-
Nah, bagaimana? Ku tunggu saran dari kalian๐
Terima kasih๐

Gila ini keren parah๐ฅ๐ฅ๐ฅ
BalasHapusmakasih makasih๐ฅ
HapusWihh ceritanya
BalasHapusBaguss mbaee
Lanjutkan ๐
Makasih, siapp๐
HapusKeren, suka ceritanya✨๐๐
BalasHapusMakasih๐๐
HapusKerenn asli ๐ Sukses selalu , di tunggu karya selanjutnya yaa๐
BalasHapusMakasih๐ siap๐๐
HapusLucu bikin ketawa sendiri ๐ ๐ lanjutkaaaaaaan karyanya:)))
BalasHapusMasa?๐ siap;)
BalasHapusNyaris sempurna... Over all sih ๐๐
BalasHapusMsh bnyk yg kurang ya๐
BalasHapusBagus cerpennya vinaaaa, sukses ya say
BalasHapusAaa makasih dy aamiin
HapusBagus bagus
BalasHapusMakasih:)
HapusBagus alvina seru ihh๐
BalasHapusBagus alvina seru ihh๐
BalasHapusBagus alvina seru ihh๐
BalasHapusMakasih mfeb๐
HapusLanjutkan kak,penasaran๐ญ๐ญ๐
BalasHapusSiap kak๐
BalasHapusBagus ih ๐๐๐
BalasHapus๐๐
HapusSeruu ihh^^
BalasHapusMenarik bgt ceritanya.. ๐
BalasHapusD tunggu kelanjutannya
Makasih:)
HapusSiap๐
Seruu nihh
BalasHapusMakasih:)
HapusDitunggu kelanjutan ceritanya kak.
BalasHapusOk kak
HapusBagus๐ญ๐ญ
BalasHapusmakasih :)
HapusBagus vin, suka ceritanya
BalasHapusmakasi:)
HapusSuka ending nya๐
BalasHapusmakasih kaka :)
Hapus