CINTA HALALKU
PART 1
“Cinta itu anugrah, cinta itu fitrah. Cintaku itu
kamu.”
~Fahri Al Farizi~
“PAGI
SEMUAAA.”sapa gadis itu menuruni anak tangga sambil tersenyum ceria dan
semangat. Saking semangatnya ia hampir saja terjatuh karena melewati 2 anak
tangga sekaligus. Si bungsu ini memang ‘ceroboh’. Siapa dia? Dia adalah Citra
Almeera. Anak dari Hana dan Haris. Ia
punya seorang kakak, Reza namanya. Citra bersekolah di SMAN TARUNA tepatnya
kelas XI IPA 1, sedangkan abangnya itu seorang pengusaha, ia mempunyai banyak
cabang toko kue dan ayahnya adalah seorang CEO. Mamanya? Mamanya seorang ibu
rumah tangga. Jangan salah, ibu rumah tangga itu besar tanggung jawabnya. Jadi,
jangan pernah meremehkan ya. Ok? Sebenarnya Hana pernah bekerja namun sekarang
Haris melarangnya, karena ia ingin Hana fokus pada tugasnya menjadi seorang
istri dan ibu. Tentang mencari nafkah biarlah menjadi tanggung jawabnya saja.
“CITRAAAAA.”semuanya
memekik dan Citra? Dia dengan santainya nyengir kuda.
“Hati-hati
dek, kebiasaan banget sih. Untuk gak kaya dulu sampe jidat lu jenong.”seru bang
reza.
“Ih
abang rese deh.”reza terkekeh pelan lalu mengambil roti bakar dan memakannya.
“Eh
papa udah berangkat? Ko gaada?” Citra baru menyadari ternyata diruang makan
hanya ada mama dan abangnya saja.
“Iya
udah dek, pagi banget sebelum kamu bangun. Ada meeting.”jawab mama.
“Takut
macet dek, taulah Jakarta gimana.”Reza menambahkan. Citra mengangguk mengerti.
“Abang ga bales sapaan Citra ih, mama juga
ngga.”protes Citra pura-pura merajuk.
“Pagi
juga anak mama yang paling cantik.”
“Pagi
juga adek abang yang paling cantik.”Citra tersenyum menanggapi. “Tapi
ceroboh.”lanjut Reza dan membuat Citra mengembungkan pipinya kesal.
Mmmm…
tapi sepertinya Citra tidak ikut sarapan, ia malah mengambil tepak makan di
dapur dan memasukan 2 potong roti bakar.
“Lah
gak sarapan dek?” tanya Reza. Citra menggeleng pelan.
“Sarapan
dulu! Tar laper ga bisa mikir. Lola nanti”ucap abangnya lagi.
“Tar
aja deh di sekolah bang.”Reza menghela nafas pasrah.
“Yaudah,
nih di minum dulu susunya.”mama menyodorkan susu pada Citra. Citra duduk lalu
meminumnya tak lupa baca ‘bismillah’.
“Berangkat
sekarang?” tanya Reza lembut setelah Citra menghabiskan susunya. Ia mengangguk.
Yap, hari ini Citra diantar oleh Reza karena papanya sudah berangkat lebih
pagi.
“Ma,
Citra berangkat. Assalamualaikum.” pamit Citra dan mencium punggung tangan
mamanya.
“Wa’alaikumsalam, Za jangan ngebut bawa mobilnya!.” Nasihat mama.
“Ok
mah sip.”Reza mengacungkan dua jempolnya.
“Ehhh
tunggu.”tahan mama saat Reza dan Citra berada didepan pintu lalu memberikan botol berisi jus jambu kesukaan Citra, non gula. Aaa…
mamanya itu memang tahu saja.
“Aaaa
jus jambu, makasih ma.” Citra mencium pipi mamanya.
“Lu
minumnya liat gue dek, pasti manis.”celetuk Reza membuat Citra memukul lengannya
pelan.
“Pedeeee.”
***
Bel
pulang sudah berbunyi dan semua orang berhamburan keluar kelas dengan tertib
tapi sepertinya Citra tidak langsung pulang, ada tugas kelompok dari Pak Beni,
guru bahasa inggris dan harus dikumpulkan besok.
“Hey
gengs kita jadi kelompok gak nih?” tanya Novi pada Citra, Mita, dan Rani.
“Jadi
dong, orang tugasnya buat besok. Yakali ga jadi. Lo mau dihukum sama pa
benben?”jawab Rani.
“Duh
si mbak santai dong santai.”
“Duh
kalian tuh ribut aja, pusing aku pusing.”ucap Mita memegang kepalanya dramatis.
Citra menggelengkan kepalanya melihat ketiga sahabatnya itu. Mereka unik. Citra
beruntung mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang selalu ada. Bukan
hanya ada disaat senang saja.
“Jadi,
tapi mau ngerjain dimana?”tanya Citra.
“Di
rumah aku aja, OK?”jawab Novi.
“OK.”ucap
mereka serempak.
Mereka
pun berjalan keluar kelas. Tapi saat 5 langkah lagi menuju gerbang ada seseorang
yang membuat mereka menghentikan langkahnya.
“Citra."panggil
seseorang. Citra pun berhenti dan diikuti oleh yang lainnya lalu menoleh ke
belakang.
"Apa?"jawab Citra singkat.
"Mau kemana?" tanya lelaki itu.
"Kepo deh."ucap Novi.
Citra melirik Novi sekilas dan tersenyum, ia tahu jika sahabatnya itu tak terlalu menyukai Zidan karena over protektifnya.
Ya, Zidan adalah sahabat citra tapi entahlah dia bisa dikatakan sahabat atau lebih dari itu.
"Mau main."jawab Citra santai.
"Kemana?"
"Ya, kemana aja."
"Gue ikut. Bolll...?" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya tapi sudah dipotong oleh mereka.
"GAK BOLEH!" ucap Rani, Novi, dan Mita kompak.
Zidan menghela nafas kasar.
"Yaudah, hati-hati Cit. Awas kecantol orang."ucap Zidan terkekeh tapi terlihat ada kekhawatiran dalam nada bicaranya.
"Apa sih Zid ga jelas deh, ya udah kita duluan." Sebenarnya Citra heran mengapa Zidan berbicara seperti itu, tapi ia tak terlalu memikirkannya.
Zidan mengangguk dan melihat punggung Citra yang semakin menjauh. Entah sampai kapan ia memendam perasaan ini. Tidakkah Citra sadar bahwa ia menyukainya? Mencintainya? Dan sudah terlalu dalam menaruh harap padanya? Mengungkapkan rasa pun sudah ia coba, tapi hasilnya? Citra tak terlalu memperdulikannya dan menolaknya.
"Apa?"jawab Citra singkat.
"Mau kemana?" tanya lelaki itu.
"Kepo deh."ucap Novi.
Citra melirik Novi sekilas dan tersenyum, ia tahu jika sahabatnya itu tak terlalu menyukai Zidan karena over protektifnya.
Ya, Zidan adalah sahabat citra tapi entahlah dia bisa dikatakan sahabat atau lebih dari itu.
"Mau main."jawab Citra santai.
"Kemana?"
"Ya, kemana aja."
"Gue ikut. Bolll...?" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya tapi sudah dipotong oleh mereka.
"GAK BOLEH!" ucap Rani, Novi, dan Mita kompak.
Zidan menghela nafas kasar.
"Yaudah, hati-hati Cit. Awas kecantol orang."ucap Zidan terkekeh tapi terlihat ada kekhawatiran dalam nada bicaranya.
"Apa sih Zid ga jelas deh, ya udah kita duluan." Sebenarnya Citra heran mengapa Zidan berbicara seperti itu, tapi ia tak terlalu memikirkannya.
Zidan mengangguk dan melihat punggung Citra yang semakin menjauh. Entah sampai kapan ia memendam perasaan ini. Tidakkah Citra sadar bahwa ia menyukainya? Mencintainya? Dan sudah terlalu dalam menaruh harap padanya? Mengungkapkan rasa pun sudah ia coba, tapi hasilnya? Citra tak terlalu memperdulikannya dan menolaknya.
Zidan
memang sudah lama mengenal Citra, bahkan dari kecil mereka sering bermain
bersama jadi mungkin tak aneh jika mereka bisa sedekat ini. Sebenarnya bukan
hanya dengan Citra tapi dengan Reza juga. Citra hanya menganggap Zidan itu
seperti kakaknya, lelaki yang selalu melindungi dan menjaganya. Tak lebih dari itu.
“Eh
Cit, tadi si Zidan kenapa?”ucap Novi tiba-tiba.
“Kenapa
apanya vi?”
“Enggak
deh.”
“Gak
jelas deh lo, vi” ucap Rani.
Sekarang
mereka sedang berada dipinggir jalan, entah sudah berapa lama mereka menunggu
angkutan umum tapi sampai sekarang belum ada yang lewat juga. Nyatanya, menunggu memang tidak enak
dan melelahkan.
“Ishh
ini lama banget ya.”keluh Mita.
“Tau
deh si mamangnya lama banget.”timpal Novi.
“Gerah
ishhh.”ucap Rani mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
“Jalan
aja apa ya?”tanya Citra. Membuat mereka semua menganga.
“Dedek
lelah kakak Citra.”ucap Novi alay. Rani dan Mita mengendikkan bahunya geli tapi
tak lama setelah itu ada mobil yang berhenti di depan mereka. Dia menurunkan
kacanya dan menawarkan agar mereka mau ikut bersamanya.
“Hey,
kalian masih disini? Bareng aja. ayo naik!”ajak Zidan. Yap, itu Zidan.
kesempatan gak dateng dua kali, kapan lagi bisa
bareng citra. Batinnya.
“Ehh
gapapa nih kita nebeng?”tanya Rani.
“Gapapa
lah, malah gue seneng.”Zidan tersenyum lebar.
“Seneng
soalnya bisa bareng Citra.”celetuk Novi. Zidan tetap tersenyum lalu melirik
citra sedangkan Citra tak menanggapi. Ia bahkan tak tahu zidan meliriknya. Ia
sedang fokus mengirimi abangnya pesan, memberitahu jika ia pulang telat.
Akhirnya
mereka semua pun naik ke dalam mobil tapi sepanjang perjalanan masih belum ada
yang mau membuka suara.
Zidan
berdehem.
“Jadi
mau kemana?”tanya Zidan bingung karena ia tak tahu harus mengantar kemana.
“Ke
rumah gue, Dan. Tapi ga usah sampe rumah, di depan komplek aja.”jawab Novi.
Zidan
mengangguk pelan.
“Heleh
vi tadi lo yang jawab ’kepo’ tapi sekarang
lo yang ngasih tau.”Mita terkekeh.
“Hehe
sorry.” cengir Novi.
“Eh
Cit lo ko diem aja? malu yah?”tanya Rani tiba-tiba.
“Apasih,
enggak ko.” jawab Citra santai.
Setelah
10 menit akhirnya mereka sampai, tak membutuhkan waktulama karena jaraknya juga
tak begitu jauh.
“Thanks
ya, jangan kapok ditebengin sama kita.”ucap Rani.
“Iya,
santai aja kali. Gue malah seneng.”
“Gara-gara ada Citra kan?” Zidan diam, dan Citra
segera menarik teman-temannya tapi sebelum itu ia berterima kasih pada Zidan.
“Makasih
ya. Ayoo ahh.” Citra tak ingin jika sahabatnya itu terus menggodanya apalagi
jika sudah tentang Zidan. Citra tak ingin membahasnya. Mereka pun pergi dari
pandangan zidan, ia melihat mereka yang semakin menjauh, tapi pandangannya tertuju pada Citra. Setelah mereka
benar-benar masuk area komplek Zidan melajukan lagi mobilnya.
“Novi
pulang…. “ucap Novi sambil membuka pintu, tapi ternyata seseorang juga
membukakannya dari dalam.
“Assalamu’alaikum
dulu.”ucap orang itu. Novi mebulatkan matanya kaget.
“HAHHH
KAK FAHRI…”Novi langsung berhambur ke pelukan kakanya, lebih tepatnya kakak
sepupu. Fahripun membalas pelukan Novi.
“Kakak kok ga bilang mau pulang tuh?” Novi
melepaskan pelukannya. Selama beberapa bulan ini Fahri pergi keluar negeri
untuk mengurusi pekerjaannya.
“Biar
surprise, tadinya mau besok aja kesininya tapi bunda lagi disini yaudah kakak kesini
aja.”jelas Fahri. Novi mengangguk mengerti.
“Ekhmmmm.”
saking kangennya, Novi melupakan ketiga sahabatnya.
Novi
menepuk jidatnya.
“Ehh..
ya ampun maaf-maaf sampe lupa kan, ah kak Fahri sih. Ayo masuk gengs.” Novi
mempersilahkan mereka masuk.
“Oiya kenalin ini kak Fahri. Kakak sepupu.”
“Gilaa
gantenggg banget”gumam Rani pelan tapi masih bisa terdengar oleh Novi.
“Iya
emang ganteng kan kakak gue.”bisik Novi.
“Kak
kenalin ini sahabat-sahabat aku, ini Citra, yang itu Rani, yang ujung Mita.”
Ucap novi memperkenalkan. Fahri mengangguk dan tersenyum.
“Haiiii…”ucap
Fahri pada mereka.
“Haiiii kak Fahri.” Tapi tunggu…. Novi lihat
kakanya itu seperti terus memperhatikan Citra.
‘wahhh baru ketemu juga udah curi-curi pandang gitu,
aku aduin ke tante loh kak’
“Duduk
dulu ya, aku mau ambil minum.” Saat novi akan mengambil minum dan beberapa
camilan, Fahri duduk bersama ibu dan tantenya.
“Di
depan ada siapa, Ri?”tanya bunda.
“Oh
itu temen-temennya Novi bun.”
“Ehh
suruh sini aja sambil nonton tv, ngemil-ngemil. “ucap Lala, ibu Novi.
“Ih
mama kita mau kerja kelompok masa disuruh nonton tv.”jawab Novi saat mendengar perkataan mamanya.
“Ohh,
kirain cuma maen. Sini mama bantu.”melihat anaknya kerepotan membawa
toples-toples berisi camilan, ia membantu untuk membawakannya.
“Heyy,
mau pada kerja kelompok yah?”tanya mama Novi.
“Iya
tante.”mereka mengangguk sopan dan mencium punggung tangan Bu Lala..
“Ehhhh
gak usah repot-repot tan.”ucap Citra saat melihat Bu Lala membawa banyak
camilan.
“Ga
repot kok, buat ganjel perut aja. biar fokus nugasnya.”
“Makasih
tan.”ucap mereka serempak.
“Iya,
yaudah tante ke dalem dulu ya.” Bu Lala pun kembali ke ruang tengah sementara
di ruang tamu, Novi dan teman-temannya sedang fokus mengerjakan tugas.
Fahri
diam-diam memperhatikan Citra. Lagi-lagi tercyduk oleh Novi. Tapi Fahri tak
mengetahuinya. Karena ruang tengah dan ruang tamu tak terhalang oleh pintu,
jadi Fahri bisa melihat dengan jelas apa yang sedang mereka kerjakan.
Hayoo
Fahri hayoo tercyduk….
***
Ok, ini part 1 semoga yang membaca suka :) beri komentar kalian ya...
terima kasih:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar