Minggu, 03 Maret 2019

NOVEL (PART 1)


CINTA HALALKU
PART 1

“Cinta itu anugrah, cinta itu fitrah. Cintaku itu kamu.”
~Fahri Al Farizi~

“PAGI SEMUAAA.”sapa gadis itu menuruni anak tangga sambil tersenyum ceria dan semangat. Saking semangatnya ia hampir saja terjatuh karena melewati 2 anak tangga sekaligus. Si bungsu ini memang ‘ceroboh’. Siapa dia? Dia adalah Citra Almeera.  Anak dari Hana dan Haris. Ia punya seorang kakak, Reza namanya. Citra bersekolah di SMAN TARUNA tepatnya kelas XI IPA 1, sedangkan abangnya itu seorang pengusaha, ia mempunyai banyak cabang toko kue dan ayahnya adalah  seorang CEO. Mamanya? Mamanya seorang ibu rumah tangga. Jangan salah, ibu rumah tangga itu besar tanggung jawabnya. Jadi, jangan pernah meremehkan ya. Ok? Sebenarnya Hana pernah bekerja namun sekarang Haris melarangnya, karena ia ingin Hana fokus pada tugasnya menjadi seorang istri dan ibu. Tentang mencari nafkah biarlah menjadi tanggung jawabnya saja.

“CITRAAAAA.”semuanya memekik dan Citra? Dia dengan santainya nyengir kuda.

“Hati-hati dek, kebiasaan banget sih. Untuk gak kaya dulu sampe jidat lu jenong.”seru bang reza.

“Ih abang rese deh.”reza terkekeh pelan lalu mengambil roti bakar dan memakannya.

“Eh papa udah berangkat? Ko gaada?” Citra baru menyadari ternyata diruang makan hanya ada mama dan abangnya saja.

“Iya udah dek, pagi banget sebelum kamu bangun. Ada meeting.”jawab mama.

“Takut macet dek, taulah Jakarta gimana.”Reza menambahkan. Citra mengangguk mengerti.

 “Abang ga bales sapaan Citra ih, mama juga ngga.”protes Citra pura-pura merajuk.

“Pagi juga anak mama yang paling cantik.”

“Pagi juga adek abang yang paling cantik.”Citra tersenyum menanggapi. “Tapi ceroboh.”lanjut Reza dan membuat Citra mengembungkan pipinya kesal.
Mmmm… tapi sepertinya Citra tidak ikut sarapan, ia malah mengambil tepak makan di dapur dan memasukan 2 potong roti bakar.

“Lah gak sarapan dek?” tanya Reza. Citra menggeleng pelan.

“Sarapan dulu! Tar laper ga bisa mikir. Lola nanti”ucap abangnya lagi.

“Tar aja deh di sekolah bang.”Reza menghela nafas pasrah.

“Yaudah, nih di minum dulu susunya.”mama menyodorkan susu pada Citra. Citra duduk lalu meminumnya tak lupa baca ‘bismillah’.

“Berangkat sekarang?” tanya Reza lembut setelah Citra menghabiskan susunya. Ia mengangguk. Yap, hari ini Citra diantar oleh Reza karena papanya sudah berangkat lebih pagi.

“Ma, Citra berangkat. Assalamualaikum.” pamit Citra dan mencium punggung tangan mamanya. 

“Wa’alaikumsalam, Za jangan ngebut bawa mobilnya!.” Nasihat mama.

“Ok mah sip.”Reza mengacungkan dua jempolnya.

“Ehhh tunggu.”tahan mama saat Reza dan Citra berada didepan pintu lalu  memberikan botol  berisi jus jambu kesukaan Citra, non gula. Aaa… mamanya itu memang tahu saja.

“Aaaa jus jambu, makasih ma.” Citra mencium pipi mamanya.

“Lu minumnya liat gue dek, pasti manis.”celetuk Reza membuat Citra memukul lengannya pelan.

“Pedeeee.”
  
***
Bel pulang sudah berbunyi dan semua orang berhamburan keluar kelas dengan tertib tapi sepertinya Citra tidak langsung pulang, ada tugas kelompok dari Pak Beni, guru bahasa inggris dan harus dikumpulkan besok.

“Hey gengs kita jadi kelompok gak nih?” tanya Novi pada Citra, Mita, dan Rani.

“Jadi dong, orang tugasnya buat besok. Yakali ga jadi. Lo mau dihukum sama pa benben?”jawab Rani.

“Duh si mbak santai dong santai.”

“Duh kalian tuh ribut aja, pusing aku pusing.”ucap Mita memegang kepalanya dramatis. Citra menggelengkan kepalanya melihat ketiga sahabatnya itu. Mereka unik. Citra beruntung mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang selalu ada. Bukan hanya ada disaat senang saja.

“Jadi, tapi mau ngerjain dimana?”tanya Citra.

“Di rumah aku aja, OK?”jawab Novi.

“OK.”ucap mereka serempak.

Mereka pun berjalan keluar kelas. Tapi saat 5 langkah lagi menuju gerbang ada seseorang yang membuat mereka menghentikan langkahnya.

“Citra."panggil seseorang. Citra pun berhenti dan diikuti oleh yang lainnya lalu menoleh ke belakang.

"Apa?"jawab Citra singkat.

"Mau kemana?" tanya lelaki itu.

"Kepo deh."ucap Novi.

Citra melirik Novi sekilas dan tersenyum, ia tahu jika sahabatnya itu tak terlalu menyukai Zidan karena over protektifnya.
Ya, Zidan adalah sahabat citra tapi entahlah dia bisa dikatakan sahabat atau lebih dari itu.

"Mau main."jawab Citra santai.

"Kemana?"

"Ya, kemana aja."

"Gue ikut. Bolll...?" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya tapi sudah dipotong oleh mereka.

"GAK BOLEH!" ucap Rani, Novi, dan Mita kompak.

Zidan menghela nafas kasar.

"Yaudah, hati-hati Cit. Awas kecantol orang."ucap Zidan terkekeh tapi terlihat ada kekhawatiran dalam nada bicaranya.

"Apa sih Zid ga jelas deh, ya udah kita duluan." Sebenarnya Citra heran mengapa Zidan berbicara seperti itu, tapi ia tak terlalu memikirkannya.

Zidan mengangguk dan melihat punggung Citra yang semakin menjauh. Entah sampai kapan ia memendam perasaan ini. Tidakkah Citra sadar bahwa ia menyukainya? Mencintainya? Dan sudah terlalu dalam menaruh harap padanya? Mengungkapkan rasa pun sudah ia coba, tapi hasilnya? Citra tak terlalu memperdulikannya dan menolaknya.

Zidan memang sudah lama mengenal Citra, bahkan dari kecil mereka sering bermain bersama jadi mungkin tak aneh jika mereka bisa sedekat ini. Sebenarnya bukan hanya dengan Citra tapi dengan Reza juga. Citra hanya menganggap Zidan itu seperti kakaknya, lelaki yang selalu melindungi dan menjaganya.  Tak lebih dari itu.

“Eh Cit, tadi si Zidan kenapa?”ucap Novi tiba-tiba.

“Kenapa apanya vi?”

“Enggak deh.”

“Gak jelas deh lo, vi” ucap Rani.

Sekarang mereka sedang berada dipinggir jalan, entah sudah berapa lama mereka menunggu angkutan umum tapi sampai sekarang belum ada yang lewat  juga. Nyatanya, menunggu memang tidak enak dan melelahkan.

“Ishh ini lama banget ya.”keluh Mita.

“Tau deh si mamangnya lama banget.”timpal Novi.

“Gerah ishhh.”ucap Rani mengibas-ngibaskan kedua tangannya.

“Jalan aja apa ya?”tanya Citra. Membuat mereka semua menganga.

“Dedek lelah kakak Citra.”ucap Novi alay. Rani dan Mita mengendikkan bahunya geli tapi tak lama setelah itu ada mobil yang berhenti di depan mereka. Dia menurunkan kacanya dan menawarkan agar mereka mau ikut bersamanya.

“Hey, kalian masih disini? Bareng aja. ayo naik!”ajak Zidan. Yap, itu Zidan.
kesempatan gak dateng dua kali, kapan lagi bisa bareng citra. Batinnya.

“Ehh gapapa nih kita nebeng?”tanya Rani.

“Gapapa lah, malah gue seneng.”Zidan tersenyum lebar.

“Seneng soalnya bisa bareng Citra.”celetuk Novi. Zidan tetap tersenyum lalu melirik citra sedangkan Citra tak menanggapi. Ia bahkan tak tahu zidan meliriknya. Ia sedang fokus mengirimi abangnya pesan, memberitahu jika ia pulang telat.
Akhirnya mereka semua pun naik ke dalam mobil tapi sepanjang perjalanan masih belum ada yang mau membuka suara.

Zidan berdehem.
“Jadi mau kemana?”tanya Zidan bingung karena ia tak tahu harus mengantar kemana.

“Ke rumah gue, Dan. Tapi ga usah sampe rumah, di depan komplek aja.”jawab Novi.
Zidan mengangguk pelan.

“Heleh vi tadi lo yang jawab ’kepo’ tapi   sekarang lo yang ngasih tau.”Mita terkekeh.

“Hehe sorry.” cengir Novi.

“Eh Cit lo ko diem aja? malu yah?”tanya Rani tiba-tiba.

“Apasih, enggak ko.” jawab Citra santai.

Setelah 10 menit akhirnya mereka sampai, tak membutuhkan waktulama karena jaraknya juga tak begitu jauh.

“Thanks ya, jangan kapok ditebengin sama kita.”ucap Rani.

“Iya, santai aja kali. Gue malah seneng.”

 “Gara-gara ada Citra kan?” Zidan diam, dan Citra segera menarik teman-temannya tapi sebelum itu ia berterima kasih pada Zidan.

“Makasih ya. Ayoo ahh.” Citra tak ingin jika sahabatnya itu terus menggodanya apalagi jika sudah tentang Zidan. Citra tak ingin membahasnya. Mereka pun pergi dari pandangan zidan, ia melihat mereka yang semakin menjauh, tapi pandangannya  tertuju pada Citra. Setelah mereka benar-benar masuk area komplek Zidan melajukan lagi mobilnya.

“Novi pulang…. “ucap Novi sambil membuka pintu, tapi ternyata seseorang juga membukakannya dari dalam.

“Assalamu’alaikum dulu.”ucap orang itu. Novi mebulatkan matanya kaget.

“HAHHH KAK FAHRI…”Novi langsung berhambur ke pelukan kakanya,  lebih tepatnya kakak sepupu. Fahripun membalas pelukan Novi.

 “Kakak kok ga bilang mau pulang tuh?” Novi melepaskan pelukannya. Selama beberapa bulan ini Fahri pergi keluar negeri untuk mengurusi pekerjaannya.

“Biar surprise, tadinya mau besok aja kesininya tapi bunda lagi disini yaudah kakak kesini aja.”jelas Fahri. Novi mengangguk mengerti.

“Ekhmmmm.” saking kangennya, Novi melupakan ketiga sahabatnya.

Novi menepuk jidatnya.
“Ehh.. ya ampun maaf-maaf sampe lupa kan, ah kak Fahri sih. Ayo masuk gengs.” Novi mempersilahkan mereka masuk.

 “Oiya kenalin ini kak Fahri. Kakak sepupu.”

“Gilaa gantenggg banget”gumam Rani pelan tapi masih bisa terdengar oleh Novi.

“Iya emang ganteng kan kakak gue.”bisik Novi.

“Kak kenalin ini sahabat-sahabat aku, ini Citra, yang itu Rani, yang ujung Mita.” Ucap novi memperkenalkan. Fahri mengangguk dan tersenyum.

“Haiiii…”ucap Fahri pada mereka.

 “Haiiii kak Fahri.” Tapi tunggu…. Novi lihat kakanya itu seperti terus memperhatikan Citra.
‘wahhh baru ketemu juga udah curi-curi pandang gitu, aku aduin ke tante loh kak’

“Duduk dulu ya, aku mau ambil minum.” Saat novi akan mengambil minum dan beberapa camilan, Fahri duduk bersama ibu dan tantenya.

“Di depan ada siapa, Ri?”tanya bunda.

“Oh itu temen-temennya Novi bun.”

“Ehh suruh sini aja sambil nonton tv, ngemil-ngemil. “ucap Lala, ibu Novi.

“Ih mama kita mau kerja kelompok masa disuruh nonton tv.”jawab Novi saat mendengar  perkataan mamanya.

“Ohh, kirain cuma maen. Sini mama bantu.”melihat anaknya kerepotan membawa toples-toples berisi camilan, ia membantu untuk membawakannya.

“Heyy, mau pada kerja kelompok yah?”tanya mama Novi.

“Iya tante.”mereka mengangguk sopan dan mencium punggung tangan Bu Lala..

“Ehhhh gak usah repot-repot tan.”ucap Citra saat melihat Bu Lala membawa banyak camilan.

“Ga repot kok, buat ganjel perut aja. biar fokus nugasnya.”

“Makasih tan.”ucap mereka serempak.

“Iya, yaudah tante ke dalem dulu ya.” Bu Lala pun kembali ke ruang tengah sementara di ruang tamu, Novi dan teman-temannya sedang fokus mengerjakan tugas.

Fahri diam-diam memperhatikan Citra. Lagi-lagi tercyduk oleh Novi. Tapi Fahri tak mengetahuinya. Karena ruang tengah dan ruang tamu tak terhalang oleh pintu, jadi Fahri bisa melihat dengan jelas apa yang sedang mereka kerjakan.

Hayoo Fahri hayoo tercyduk….

***


Ok, ini part 1 semoga yang membaca suka :) beri komentar kalian ya...
terima kasih:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOVEL(PART 6)

CINTA HALALKU PART 6  "Semoga kamu adalah masa depanku. Aku disini bersiap menjemputmu." ~Fahri Al Farizi~ ...