Minggu, 03 Maret 2019

NOVEL (PART 2)

CINTA HALALKU

PART 2


"Cinta itu  tidak rumit. Percayakah? asal kita bisa berkomitmen pada satu hati dan tidak  memberikan sesuatu yang tidak pasti."


~Citra Almeera~



“Eh Vi, kakak mau tanya dong.” Fahri memberanikan diri untuk bertanya pada Novi saat semua teman-temannya sudah pulang.

“Citra yah?”tebak Novi.

“Lah ko tau? Sejak kapan kamu bisa baca pikiran orang?”Fahri terkekeh.

“Ish apaan, abisnya tadi aku liat kakak liatin mulu Citra. Hayoo ngaku mau nanyain Citra kan?”
Fahri menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Kakak minta kontaknya dong Vi.”vKelihatannya Fahri memang tertarik pada Citra dan mencoba mendekatinya.

“Gak, gak boleh.”tolak Novi.

“Lah kenapa?”

“Gapapa, pokonya aku gamau ngasih.”kekeh Novi tak ingin memberikan nomor Citra pada Fahri.

“Ayo lah, bantu kakak.”

“Gak! kaka suka sama Citra? Emang kakak belom punya pacar atau gak pengen balikan sama mantan gitu?”

“Kakak ga punya pacar dan gamau balikan sama mantan. Ih kamu tuh ya susah banget deh.”

“Tapi ada syaratnya…”

“Ok, apa syaratnya?”

“Jangan sakitin sahabat aku. Awas aja kalo nanti kakak selingkuh sama temen kantor atau apalah itu. “
“Siap, baru juga mau pdkt Vi, doain aja biar Citranya mau.”ucap Fahri serius.

“Ehh tapi Citra masih SMA loh kak.”

“Ya terus kenapa?”

“Umur kakak sama Citra beda jauh.” Novi berterus terang.

“Ya gapapa, cinta gak mandang umur kan?” Novi mengangguk dan mau tak mau harus memberikan nomor Citra. Ia tak sempat izin pada Citra karena hpnya langsung direbut oleh Fahri.

“Gak sabaran banget sih, aku mau izin dulu kak. Ngebet banget buset.”


***

Hari ini cukup melelahkan, aku merebahkan tubuhku di sofa sambil memainkan ponselku juga menonton tv tapi bang Reza tiba-tiba bertanya.

“Dek, tadi siapa sih?”tanya Bang Reza, saat aku sedang asyik nonton tv.

“Ha? Siapa apanya?” aku menautkan alis, bingung.

“Itu loh pas tadi abang jemput, dia siapa? Ko liatin aja kamu? Jangan-jangan pacar?! Hayoo ngakuu lu dek.”aku mebelalakan mata kaget, dan langsung melempari bang Reza dengan bantal.

Bughhhh…..

“Awww shhh rese lu dek.”ringis bang Reza. “bener kan?”tanyanya lagi.

“Ngacooo. Kenal aja baru tadi. dia kakak sepupunya temen aku.”ucapku menjelaskan.

“Masa? Yang bener?” bang Reza tetap saja menggodaku.

“Mamaaa….. bang Reza ni ah gangguin Citra mulu.”teriakku, tapi dihadiahkan gelak tawa oleh abang.

“Mama sama papa lagi keluar adekku sayang. Lu sih tadi mandinya lama. Jadi gak tau kan.”

“Serah abang aja deh.” ucapku sambil menaruh ponselku di meja.

Drt…drtt….

Baru saja aku meletakkan ponsel, ternyata ponselku bergetar. Sangat menyebalkan.

“Tuh dek, ada yang nelpon.”bang Reza mengambil hpku.

“Lahh gak ada namanya.”

“Coba sini.”pintaku.

“Nih.” Bang Reza menyodorkan hp.

Aku mengernyit bingung. Angkat jangan angkat jangan.
Aku meletakkan hpku lagi. tidak mengangkat dan tidak merijectnya. Tapi ternyata sudah diangkat oleh abangku yang paling tampan itu, tak kalah tampan dengan kak Fahri.

‘ishh apasih kok jadi mikirin kak fahri’ batinku dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Halo…”aku langsung merebut hpku dan memutuskan sambungan sepihak.

“Abang ih rese deh. Udah ah citra mau tidur. Udah ngantuk. Bye bye abangkuu.”ucapku bangkit dan menuju ke kamar.

“Ah ga asik banget jam segini udah ngantuk. “aku tak menanggapi ucapan abang, dan tentang penelpon itu? entahlah aku pikirkan besok saja. Sekarang aku benar-benar ngantuk.

***

Fahri bergerak tak nyaman, ia mencoba untuk terlelap tapi tetap saja usaha nya sia-sia. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. ‘citra’ ya wanita yang berhasil menarik perhatiannya.

“Duhh kok gue kepikiran dia mulu sih.”gumamnya.

“Apa gue chat aja?”

“Tapi udah malem,pasti dia udah tidur.”

“Gila, gue jadi kaya ABG gini sih.”

Fahri terus saja bermonolog.

‘Ok gue coba telpon aja deh.’

Fahri mendial nomor citra, yap.. dia berhasil memaksa novi untuk memberikannya.

‘Halo?’ucap seseorang disebrang sana.baru saja fahri akan menjawab tapi sudah terputus.

Tutt…tuttt… tutt….
Fahri memandang smartphone nya bingung.

‘Ini nomor citra kan? Ko suara cowok?’

‘Mungkin Citra udah tidur dan telponnya di angkat oleh kakak atau ayahnya’

‘Mungkin’ pikir Fahri.

Ia memutuskan untuk menghubungi Citra lagi besok, Fahri pun mencari akun sosial media Citra dan yappp dapat!!! Fahri tersenyum sendiri melihat postingan Citra, walaupun bukan dia yang mempostingnya. Fahri hanya melihat foto-foto yang menandai Citra.

“Manis”

“Cantik fotonya.”

“Ehh orangnya.” ralat Fahri. Ia terkekeh pelan. Hatinya terus saja berbunga-bunga jika mengingat Citra. Tanpa dia sadari ternyata bundanya masuk,melihat Fahri yang senyum-senyum tidak jelas. Ya salah sendiri kan dia gak nutup pintu.

“Yang lagi jatuh cinta.”ucap Nisa.Bunda Fahri.

“Eh bundaa.”kaget Fahri,ia malu.

“Maaf tadi bunda langsung masuk, abis pintunya kebuka.terus bunda liat kamu lagi senyum-senyum gitu.”

“Ehh iya bun heheh, Fahri----“

“Citrakan?” baru aja Fahri akan melanjutkan perkataannya tapi sudah terpotong oleh bundanya.
Fahri bingung, ia malu untuk mengungkapkanya.

“Udah gak usah malu gitu sama bunda,bunda tau kok. Kalo emang serius kejar dia, perjuangin. Inget, jangan pernah mainin hati perempuan.”

“Iya bun pasti.”Fahri mengangguk mengerti mengacungkan kedua jempolnya dan memang sudah tertanam dalam hatinya ia tak akan pernah memainkan perasaan perempuan apalagi menyakitinya.

“Kamu beneran suka sama Citra?” Fahri mengangguk.

“Menurut Fahri dia itu beda. Pokonya hmm---“ Fahri menganggantungkan kalimatnya karena dia sendiri pun bingung untuk mengungkapkan apa yang ia rasa saat pertama kali melihat Citra.

“Iya Ri, ngerti kok. Bunda setuju.bunda dukung kamu, dukung banget. Semoga Citra mau sama kamu ya.” Bunda terkekeh.

“Mau dong, kan Fahri ganteng.”ucapnya sangat percaya diri. Dalam hati ia bersyukur, ternyata bunda mendukungnya.

“Yee, ganteng aja gak cukup.”

“Iya bunda sayang, Fahri ngerti kok. Fahri akan belajar jadi imam yang baik.”ucapnya serius.

“Iya bunda percaya kamu bisa, cepet halalin tar keduluan orang nangis kamu.”

“Dia masih sekolah bunda.”rengek Fahri. Bunda terkekeh.

“Yaudah kamu tidur. udah malem. Nanti lagi mikirin Citranya.” Fahri mengangguk. Setelah itu bunda keluar dari kamarnya.

Fahri terus saja mengembangkan senyumnya, bayangan Citra selalu muncul diotaknya.saat citra tertawa, tersenyum atau saat dia terdiam pun Fahri mengingatnya.
Ia pun terlelap.

***

Hari ini Fahri tidak pergi ke kantor, ia sedang duduk bersantai di taman samping rumah menghirup udara segar sambil menyesap hot chocolatenya.

Drt....drt....
Hpnya bergetar. Ternyata ada panggilan dari Om Hasan.

“Halo assalamu’alaikum om.”
“.......”
“Oh, yaudah nanti fahri ke rumah om.”
“......”
“Iya om,wa’alaikumsalam.”

Fahri masuk ke dalam rumah dan melihat bundanya sedang menyiapkan sarapan.

“Wihhh nasi gorengnya wangi banget bun, ngiler deh.”

“Yaudah ayo sarapan.” Fahri tiba-tiba tersenyum dan memandang nasi goreng itu.

Coba citra masak nasi goreng buat gue.

Rafa yang melihat Fahri seperti itu hanya kebingungan dan bertanya pada istrinya.

“Si Fahri kenapa bun?”

“Biasalah yah.”Rafa bingung melihat istrinya yang juga ikut senyum-senyum.

“CITRA ya yah.” Nisa menekankan kata CITRA. Rafa semakin dibuat bingung. Dan menautkan alisnya tanda ia bertanya’maksudnya?’

Fahri yang mendengar nama Citra langsung terlonjat kaget.

“Dimana bun?”

“Dimana apa?”ucap Nisa pura-pura tak tahu dan sebisa mungkin menahan tawanya.

Ia menggelengkan kepalanya. Fahri jadi malu sendiri.

Mungkin salah denger. Batinnya.

Arghhh citraa… hati Fahri menjerit.

“Oiya yah, bun nanti Fahri mau ke rumah Om Hasan. Katanya ada yang mau dibicarain.” Ayah dan bunda Fahri mengangguk. Sebenarnya mereka sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh hasan.
“Yaudah kamu sarapan dulu terus siap-siap ke rumah Om Hasan.”Fahri mengangguk menyetujui.

Diperjalanan Fahri bertanya-tanya. Apa ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Om Hasan? Apa ini menyangkut masalah kantor? Tapi Fahri pikir itu tidak mungkin karena Om Hasan kan kepala sekolah sekaligus dosen jadi mana mungkin membicarakan masalah kantor? Fahri merasa aneh sendiri.
Setelah 30 menit perjalanan akhirnya Fahri sampai di rumah Om Hasan dan memakirkan mobilnya.

Tok.. Tok…tok…

“Assalamu’alaikum...”

“Wa’alaikumsalam. Ehh Fahri kamu udah dateng.” ucap Ratih,  Istri Om Hasan setelah membukakan pintu.

“Iya tan.” Fahri mencium punggung tangan Ratih.

“Yaudah yuk masuk.” Fahri pun masuk. Sudah lama ia tak berkunjung kesini. ternyata rumah ini tetap nyaman dan semakin nyaman.

“Duduk, Ri.Tante panggil om dulu ya.”Fahri mengangguk. Tak lama setelah itu om nya menghampiri dan mereka berpelukan layaknya sahabat yang sudah lama tak bertemu. Diantara om nya yang lain, Om Hasan adalah yang paling dekat dengan Fahri. ia sudah menganggap Fahri sebagai anaknya sendiri.

“Makin keren aja kamu, Ri. Oiya udah sarapan belum? Maaf nih om pagi-pagi udah nyuruh kamu kesini.”

“Fahri udah sarapan kok, gakpapa om. Santai aja. Fahri seneng bisa kesini.” Hasan mengangguk.

“ Oiya, gimana kerjaan kamu? Lancar?” Hasan mencoba pelan-pelan mengarahkan pembicaraannya.

“Alhamdulillah lancar om. Kalo om?”

“Alhamdulillah. Tapi…”

“Kenapa om?”

“Om harus pergi ke singapur, ada yang harus om urus disana, mungkin agak lama. Sementara om gak bisa ninggalin sekolah gitu aja. walau bagaimanapun om harus cari orang buat ganti posisi om disekolah.”Fahri mengangguk dan masih belum mengerti arah pembicaraan Om Hasan.

“Om pengen kamu yang gantiin. Kamu bisa, Ri?” Fahri terkejut bukan main.

“Hah? Fahri om?” Hasan mengangguk Fahri.

“Perusahaan kamu udah ayah handle kok Ri, jadi kamu tenang aja.”ucap ayah nya tiba-tiba. Ternyata Nisa dan Rafa ada disini juga. Mereka pergi setelah Fahri berangkat.
Mereka pikir, mereka harus ikut membujuk Fahri agar mau menggantikan posisi Hasan.

“Tapi apa Fahri bisa om?”

“Om yakin kamu bisa, Ri. Mangkannya om minta bantuan kamu.” Fahri melirik pada ayah dan bundanya, mereka mengangguk tanda bahwa menyetujui.

“Ok, om. In syaa allah Fahri siap.”

“Alhamdulillah.” Hasan menghela nafas lega. Tiga hari lagi, ia berangkat ke singapur. Jadi Fahri mulai minggu depan sudah  menggantikan posisi Hasan disekolah.

***


Nah, ini part 2, kalian suka?
berikan komentar, agar penulis bisa memperbaiki setiap kesalahan...

terima kasih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOVEL(PART 6)

CINTA HALALKU PART 6  "Semoga kamu adalah masa depanku. Aku disini bersiap menjemputmu." ~Fahri Al Farizi~ ...