CINTA HALALKU
PART 2
"Cinta itu tidak rumit. Percayakah? asal kita bisa berkomitmen pada satu hati dan tidak memberikan sesuatu yang tidak pasti."
~Citra Almeera~
“Eh Vi, kakak mau tanya dong.” Fahri memberanikan diri untuk bertanya pada Novi saat semua teman-temannya sudah pulang.
“Citra yah?”tebak Novi.
“Lah ko tau? Sejak kapan kamu bisa baca pikiran orang?”Fahri terkekeh.
“Ish apaan, abisnya tadi aku liat kakak liatin mulu Citra. Hayoo ngaku mau nanyain Citra kan?”
Fahri menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Kakak minta kontaknya dong Vi.”vKelihatannya Fahri memang tertarik pada Citra dan mencoba mendekatinya.
“Gak, gak boleh.”tolak Novi.
“Lah kenapa?”
“Gapapa, pokonya aku gamau ngasih.”kekeh Novi tak ingin memberikan nomor Citra pada Fahri.
“Ayo lah, bantu kakak.”
“Gak! kaka suka sama Citra? Emang kakak belom punya pacar atau gak pengen balikan sama mantan gitu?”
“Kakak ga punya pacar dan gamau balikan sama mantan. Ih kamu tuh ya susah banget deh.”
“Tapi ada syaratnya…”
“Ok, apa syaratnya?”
“Jangan sakitin sahabat aku. Awas aja kalo nanti kakak selingkuh sama temen kantor atau apalah itu. “
“Siap, baru juga mau pdkt Vi, doain aja biar Citranya mau.”ucap Fahri serius.
“Ehh tapi Citra masih SMA loh kak.”
“Ya terus kenapa?”
“Umur kakak sama Citra beda jauh.” Novi berterus terang.
“Ya gapapa, cinta gak mandang umur kan?” Novi mengangguk dan mau tak mau harus memberikan nomor Citra. Ia tak sempat izin pada Citra karena hpnya langsung direbut oleh Fahri.
“Gak sabaran banget sih, aku mau izin dulu kak. Ngebet banget buset.”
***
Hari
ini cukup melelahkan, aku merebahkan tubuhku di sofa sambil memainkan ponselku
juga menonton tv tapi bang Reza tiba-tiba bertanya.
“Dek,
tadi siapa sih?”tanya Bang Reza, saat aku sedang asyik nonton tv.
“Ha?
Siapa apanya?” aku menautkan alis, bingung.
“Itu
loh pas tadi abang jemput, dia siapa? Ko liatin aja kamu? Jangan-jangan pacar?!
Hayoo ngakuu lu dek.”aku mebelalakan mata kaget, dan langsung melempari bang Reza
dengan bantal.
Bughhhh…..
“Awww
shhh rese lu dek.”ringis bang Reza. “bener kan?”tanyanya lagi.
“Ngacooo.
Kenal aja baru tadi. dia kakak sepupunya temen aku.”ucapku menjelaskan.
“Masa?
Yang bener?” bang Reza tetap saja menggodaku.
“Mamaaa…..
bang Reza ni ah gangguin Citra mulu.”teriakku, tapi dihadiahkan gelak tawa oleh
abang.
“Mama
sama papa lagi keluar adekku sayang. Lu sih tadi mandinya lama. Jadi gak tau
kan.”
“Serah
abang aja deh.” ucapku sambil menaruh ponselku di meja.
Drt…drtt….
Baru
saja aku meletakkan ponsel, ternyata ponselku bergetar. Sangat menyebalkan.
“Tuh
dek, ada yang nelpon.”bang Reza mengambil hpku.
“Lahh
gak ada namanya.”
“Coba
sini.”pintaku.
“Nih.”
Bang Reza menyodorkan hp.
Aku
mengernyit bingung. Angkat jangan angkat
jangan.
Aku
meletakkan hpku lagi. tidak mengangkat dan tidak merijectnya. Tapi ternyata
sudah diangkat oleh abangku yang paling tampan itu, tak kalah tampan dengan kak
Fahri.
‘ishh apasih kok jadi mikirin kak fahri’ batinku dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Halo…”aku
langsung merebut hpku dan memutuskan sambungan sepihak.
“Abang
ih rese deh. Udah ah citra mau tidur. Udah ngantuk. Bye bye abangkuu.”ucapku
bangkit dan menuju ke kamar.
“Ah
ga asik banget jam segini udah ngantuk. “aku tak menanggapi ucapan abang, dan
tentang penelpon itu? entahlah aku pikirkan besok saja. Sekarang aku
benar-benar ngantuk.
***
Fahri
bergerak tak nyaman, ia mencoba untuk terlelap tapi tetap saja usaha nya
sia-sia. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. ‘citra’ ya wanita yang
berhasil menarik perhatiannya.
“Duhh kok gue kepikiran dia mulu sih.”gumamnya.
“Apa gue chat aja?”
“Tapi udah malem,pasti dia udah tidur.”
“Gila, gue jadi kaya ABG gini sih.”
Fahri
terus saja bermonolog.
‘Ok gue coba telpon aja deh.’
Fahri
mendial nomor citra, yap.. dia berhasil memaksa novi untuk memberikannya.
‘Halo?’ucap
seseorang disebrang sana.baru saja fahri akan menjawab tapi sudah terputus.
Tutt…tuttt…
tutt….
Fahri
memandang smartphone nya bingung.
‘Ini
nomor citra kan? Ko suara cowok?’
‘Mungkin Citra udah tidur dan telponnya di angkat oleh kakak atau ayahnya’
‘Mungkin’
pikir Fahri.
Ia
memutuskan untuk menghubungi Citra lagi besok, Fahri pun mencari akun sosial
media Citra dan yappp dapat!!! Fahri tersenyum sendiri melihat postingan Citra,
walaupun bukan dia yang mempostingnya. Fahri hanya melihat foto-foto yang
menandai Citra.
“Manis”
“Cantik
fotonya.”
“Ehh
orangnya.” ralat Fahri. Ia terkekeh pelan. Hatinya terus saja berbunga-bunga
jika mengingat Citra. Tanpa dia sadari ternyata bundanya masuk,melihat Fahri
yang senyum-senyum tidak jelas. Ya salah sendiri kan dia gak nutup pintu.
“Yang
lagi jatuh cinta.”ucap Nisa.Bunda Fahri.
“Eh
bundaa.”kaget Fahri,ia malu.
“Maaf
tadi bunda langsung masuk, abis pintunya kebuka.terus bunda liat kamu lagi
senyum-senyum gitu.”
“Ehh
iya bun heheh, Fahri----“
“Citrakan?”
baru aja Fahri akan melanjutkan perkataannya tapi sudah terpotong oleh
bundanya.
Fahri
bingung, ia malu untuk mengungkapkanya.
“Udah
gak usah malu gitu sama bunda,bunda tau kok. Kalo emang serius kejar dia,
perjuangin. Inget, jangan pernah mainin hati perempuan.”
“Iya
bun pasti.”Fahri mengangguk mengerti mengacungkan kedua jempolnya dan memang
sudah tertanam dalam hatinya ia tak akan pernah memainkan perasaan perempuan
apalagi menyakitinya.
“Kamu
beneran suka sama Citra?” Fahri mengangguk.
“Menurut
Fahri dia itu beda. Pokonya hmm---“ Fahri menganggantungkan kalimatnya karena
dia sendiri pun bingung untuk mengungkapkan apa yang ia rasa saat pertama kali
melihat Citra.
“Iya
Ri, ngerti kok. Bunda setuju.bunda dukung kamu, dukung banget. Semoga Citra mau
sama kamu ya.” Bunda terkekeh.
“Mau
dong, kan Fahri ganteng.”ucapnya sangat percaya diri. Dalam hati ia bersyukur,
ternyata bunda mendukungnya.
“Yee,
ganteng aja gak cukup.”
“Iya
bunda sayang, Fahri ngerti kok. Fahri akan belajar jadi imam yang baik.”ucapnya
serius.
“Iya
bunda percaya kamu bisa, cepet halalin tar keduluan orang nangis kamu.”
“Dia
masih sekolah bunda.”rengek Fahri. Bunda terkekeh.
“Yaudah
kamu tidur. udah malem. Nanti lagi mikirin Citranya.” Fahri mengangguk. Setelah
itu bunda keluar dari kamarnya.
Fahri
terus saja mengembangkan senyumnya, bayangan Citra selalu muncul diotaknya.saat
citra tertawa, tersenyum atau saat dia terdiam pun Fahri mengingatnya.
Ia
pun terlelap.
***
Hari
ini Fahri tidak pergi ke kantor, ia sedang duduk bersantai di taman samping
rumah menghirup udara segar sambil menyesap hot chocolatenya.
Drt....drt....
Hpnya
bergetar. Ternyata ada panggilan dari Om Hasan.
“Halo
assalamu’alaikum om.”
“.......”
“Oh,
yaudah nanti fahri ke rumah om.”
“......”
“Iya
om,wa’alaikumsalam.”
Fahri
masuk ke dalam rumah dan melihat bundanya sedang menyiapkan sarapan.
“Wihhh
nasi gorengnya wangi banget bun, ngiler deh.”
“Yaudah
ayo sarapan.” Fahri tiba-tiba tersenyum dan memandang nasi goreng itu.
Coba citra masak nasi goreng buat gue.
Rafa
yang melihat Fahri seperti itu hanya kebingungan dan bertanya pada istrinya.
“Si
Fahri kenapa bun?”
“Biasalah
yah.”Rafa bingung melihat istrinya yang juga ikut senyum-senyum.
“CITRA
ya yah.” Nisa menekankan kata CITRA. Rafa semakin dibuat bingung. Dan menautkan
alisnya tanda ia bertanya’maksudnya?’
Fahri
yang mendengar nama Citra langsung terlonjat kaget.
“Dimana
bun?”
“Dimana
apa?”ucap Nisa pura-pura tak tahu dan sebisa mungkin menahan tawanya.
Ia
menggelengkan kepalanya. Fahri jadi malu sendiri.
Mungkin salah denger. Batinnya.
Arghhh citraa… hati
Fahri menjerit.
“Oiya
yah, bun nanti Fahri mau ke rumah Om Hasan. Katanya ada yang mau dibicarain.”
Ayah dan bunda Fahri mengangguk. Sebenarnya mereka sudah mengetahui apa yang
akan dibicarakan oleh hasan.
“Yaudah
kamu sarapan dulu terus siap-siap ke rumah Om Hasan.”Fahri mengangguk
menyetujui.
Diperjalanan Fahri bertanya-tanya. Apa ada hal
penting yang ingin dibicarakan oleh Om Hasan? Apa ini menyangkut masalah
kantor? Tapi Fahri pikir itu tidak mungkin karena Om Hasan kan kepala sekolah sekaligus dosen jadi mana mungkin membicarakan masalah kantor? Fahri merasa aneh sendiri.
Setelah 30 menit perjalanan akhirnya Fahri sampai di
rumah Om Hasan dan memakirkan mobilnya.
Tok..
Tok…tok…
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam.
Ehh Fahri kamu udah dateng.” ucap Ratih,
Istri Om Hasan setelah membukakan pintu.
“Iya
tan.” Fahri mencium punggung tangan Ratih.
“Yaudah
yuk masuk.” Fahri pun masuk. Sudah lama ia tak berkunjung kesini. ternyata rumah
ini tetap nyaman dan semakin nyaman.
“Duduk,
Ri.Tante panggil om dulu ya.”Fahri mengangguk. Tak lama setelah itu om nya
menghampiri dan mereka berpelukan layaknya sahabat yang sudah lama tak bertemu.
Diantara om nya yang lain, Om Hasan adalah yang paling dekat dengan Fahri. ia
sudah menganggap Fahri sebagai anaknya sendiri.
“Makin
keren aja kamu, Ri. Oiya udah sarapan belum? Maaf nih om pagi-pagi udah nyuruh
kamu kesini.”
“Fahri
udah sarapan kok, gakpapa om. Santai aja. Fahri seneng bisa kesini.” Hasan mengangguk.
“
Oiya, gimana kerjaan kamu? Lancar?” Hasan mencoba pelan-pelan mengarahkan
pembicaraannya.
“Alhamdulillah
lancar om. Kalo om?”
“Alhamdulillah.
Tapi…”
“Kenapa
om?”
“Om
harus pergi ke singapur, ada yang harus om urus disana, mungkin agak lama. Sementara
om gak bisa ninggalin sekolah gitu aja. walau bagaimanapun om harus cari orang
buat ganti posisi om disekolah.”Fahri mengangguk dan masih belum mengerti arah
pembicaraan Om Hasan.
“Om
pengen kamu yang gantiin. Kamu bisa, Ri?” Fahri terkejut bukan main.
“Hah?
Fahri om?” Hasan mengangguk Fahri.
“Perusahaan
kamu udah ayah handle kok Ri, jadi kamu tenang aja.”ucap ayah nya tiba-tiba.
Ternyata Nisa dan Rafa ada disini juga. Mereka pergi setelah Fahri berangkat.
Mereka
pikir, mereka harus ikut membujuk Fahri agar mau menggantikan posisi Hasan.
“Tapi
apa Fahri bisa om?”
“Om
yakin kamu bisa, Ri. Mangkannya om minta bantuan kamu.” Fahri melirik pada ayah
dan bundanya, mereka mengangguk tanda bahwa menyetujui.
“Ok,
om. In syaa allah Fahri siap.”
“Alhamdulillah.”
Hasan menghela nafas lega. Tiga hari lagi, ia berangkat ke singapur. Jadi Fahri
mulai minggu depan sudah menggantikan
posisi Hasan disekolah.
***
Nah, ini part 2, kalian suka?
berikan komentar, agar penulis bisa memperbaiki setiap kesalahan...
terima kasih :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar