Minggu, 03 Maret 2019

NOVEL (PART 3)

CINTA HALALKU

PART 3



"Terkadang cinta harus sesakit ini, mengharapkan seseorang yang tak pernah mengharapkan kita."


~Zidan~


“Pah, aku bawa motor ke  sekolahnya ya. Gak usah di anter.”ucapku. Biasanya aku diantar oleh papa menggunakan mobil karena arah kantor papa searah dengan sekolahku. Kadang juga diantar oleh Bang Reza, tapi sekarang Bang Reza sedang keluar, ada perlu sebentar katanya. Padahal ini masih pagi, dasar Bang Reza. Sibuk terus.

“Lahh itu bensinnya belum papa isi dek.” Aku panik. Ini udah pukul 06.30 dan 15 menit lagi gerbang sekolah pasti ditutup. Lagi pula ini hari sabtu jadi papa tidak pergi ke kantor.

“Kamu isi dulu bensinnya ya?”

“Tapi ini udah siang pah, nanti Citra telat.”

“Papa isi sebentar ke depan.” ucapnya bergegas. Aku menunggu papa di luar, sebelum itu aku pamit ke mama.

“Assalamu’alaikum ma, doain Citra ya.”ucapku mencium punggung tangan mama.

“Wa’alaikumsalam. Iya, hati-hati, Nak.”

Tak lama aku menunggu akhirnya papa datang juga. Aku langsung menghampirinya.

“Udah jangan buru-buru. Santai aja.”papa memperingatkan.

“Iya siap.” Papa turun dari motor dan langsung diambil alih olehku.

“Citra berangkat, assalamu,alaikum.”baru saja aku  akan menjalankan motor, papa menahanku.

“Ehh tunggu dulu.”
Aku mengernyit bingung

 “Itu tali sepatu kamu.”

“Eh hehee.” Cengirku. Ternyata tali sepatuku lepas dan kalau saja papa tak mengingatkan mungkin itu akan membahayakanku dan itulah aku’si ceroboh’

Aku mematikan mesinnya dan membetulkan tali sepatu tapi ternyata aku kalah cepat. Papa sudah lebih dulu berjongkok.

Duh gak sopan deh aku. Maaf ya pa.

“Kamu tuh ya, udah gede masih kaya anak kecil deh.”ledek papa. Aku hanya memasang  wajah polos dan mengeluarkan cengiran khasku.

“Makasih pah, Citra berangakat. Asalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

***

“Assalamu’alaikum.”ucap Citra memasuki kelas dan dijawab oleh teman-temannya. Disana sudah ada sahabat-sahabatnya yang menunggu.

 “Citraaaaaa” ucap Novi tiba-tiba memeluk Citra. Citra menaikkan sebelah alisnya.

“Kamu kenapa?” Novi hanya menggeleng. Sebenarnya Novi ingin meminta maaf pada Citra, tapi ia pikir nanti saja. Citra duduk dibangkunya.

“Oiya, tugas kemaren di bawa kamu kan ya?” tanya Mita.

“Yang ingris? Bukannya di Novi yah?”

“Wahh tuh kan gue bilang juga di lu Vi. Pikun lu ah.”ucap Rani.

“Lahhh masaaa?”

“Iya kalo gak salah, kemaren aku liat diselip di buku paket inggris deh.”ucap Citra sambil mengingat-ngingat.

“ Cepet cek vi! Awas aja kalo gak bawa.bisa-bisa kita dihukum sama Pak Benben.”ucap Mita

“HAAHH INI KEMANA BUKU PAKETNYA.”

“Jangan bilang gak bawa. Duh vi….”ucap Citra gelisah.

“ASLI INI MANA BUKU PAKETNYA.”

“Ehh… ini buku paket siapa yang dimeja guru?” ucap seseorang sambil memperlihatkan buku itu. Citra dan yang lainnya langsung menoleh.”

“HAA ITU PUNYA GUE.” Novi langsung menghampiri dan mengambil buku paketnya lalu kembali ke tempatnya.

“Ko bisa ada di depan sih vi?”tanya Citra

“Oiya gue lupa tadi pas piket malah naro buku yang gue pegang di depan hehee.” cengir Novi.

“Coba ada gak?” Novi membuka lembar demi lembar buku itu. Citra dan yang lainnya sudah dag dig dug. Takut jika tugasnya memang tertinggal dan membayangkan Pa Beni marah karena tugasnya tak dikumpulkan tepat waktu.

“Huhh ada gengssss.” mereka menghela nafas lega.

“Hampir aja jantungan kita.”

“Hehee sorry, gue lupa beneran gak boong.”

“Iya-iya.”

Bel pelajaran pertama sudah dimulai, dan pagi hari ini diawali oleh pelajaran bahasa inggris.

“Kumpulkan tugas kemarin yang saya berikan.”ucap Pak Beni dingin. Anak-anak maju ke depan mengumpulkan tugasnya.

“Ada yang belum?” beberapa orang mengangkat tangannya takut.

“Keluar dan kerjakan tugas itu! tapi saya akan kurangi nilai kalian karena tidak mengumpulkan tugas tepat waktu.”
Mereka mengangguk pasrah.

“Huh untung kita udah.”bisik Citra pada ketiga sahabatnya. Mereka mengangguk setuju. Akhirnya pekerjaan mereka kemarin tak sia-sia. Setelah pelajaran Pak Beni, dilanjutkan pelajaran biologi…
Pelajaran yang seketika membuat anak-anak kelas menjadi putri dan putra tidur. Hahaaa…

“Woyy siap-siap bobokkk.”

“Belum juga mulai, udah ngantuk duluan.”

“Apa kayu putih gak? Gue ngantuk banget nih.”

“Cuci muka woy jangan pake kayu putih gila perih kali!”

“Yee kan buat nanti, masa iya gue bolak-balik aja ke wc buat cuci muka!”

“Iya deh serah lu!”

“Lahh gue bisa apa duduk di depan gini mana bisa bobokkk.”

“Derita lo bro!!!”

Itulah keriuhan teman-temannya saat akan memulai pelajaran biologi. Tak lama setelah itu, Pak Lili masuk dan semuanya diam.

“Anak-anak, mohon maaf hari bapak harus rapat jadi tidak bisa menjelaskan materi bab selanjutnya. Sekarang kalian kerjakan halaman 105-110. Kalian jangan ribut dan tugasnya bapak tunggu. Hari ini harus selesai. Mengerti?” Ucap Pak Lili.

“Mengerti pak.” Pak Lili pun keluar. Anak-anak? Kalian pasti tahu bagaimana perasaan mereka sekarang.hayooo ngaku upasti udah tau kan?

“Woyy cepet kerjain tugasnya! Jangan sampe ada yang dikeluarin atau dikurangi nilainya lagi. Gue gak mau.” perintah pak KM, Rangga.

“Siappp”

“Ok pak ketuu.”

“Laksanakan.”

Merekpun langsung mengerjakan tugas dari Pak Lili.

Yap, mereka tak mau jika kejadian tadi terulang, karena penyesalahan itu datang di akhir. Jangan pernah sengaja untuk menunda-nunda tugas atau pekerjaan ya. Ambil hikmah dari setiap kesalahan dan terus perbaiki untuk kedepannya.

Tak terasa ternyata bel istirahat sudah berbunyi, anak-anak pun mengumpulkan tugas mereka dan berhamburan pergi ke kantin. Sementara Citra tetap dikelas, entahlah dia malas untuk ke kantin.

“Cit, kantin yuk!”ajak ketiga sahabatnya.

“Mm aku nitip aja boleh?” tanya Citra dan dibalas anggukan oleh mereka.

“Yaudah, mau nitip apa?” tanya Mita.

“Roti sama bakpau.”Citra memberikan uang untuk membeli jajanannya.

“Ok, kita kantin dulu.”Citra mengangguk. Lalu ia mengeluarkan novel dari tasnya. Yap, Citra pecinta novel. Baru saja ia akan membaca ternyata ada seseorag yang berteriak memanggilnya.

“WOY CIT.” teriak Ryan.teman sekelas Citra.

“Apa?”

“Ada yang nyari lo, Cit.”

 “Kakak kelas.”lanjutnya.  Aku hanya mengangguk dan keluar.

“Eehhh... kak Dito?”

“Hay.”

“Ha—hay kak.”ucapku gugup.
 Ini kan kakak-kakak pramuka yang galak itu. Duh kok gue jadi takut ya?ngapain dia nyamperin?haa jangan-jangan dia mau ngasih hukuman gara-gara waktu itu gue gak pake atribut lengkap .Eh tapi kan waktu itu udah dihukum. Masa sekarang mau di hukum lagi sih? Duh gawat-gawat. Batinku.

“Heh kok malah ngelamun sih?”

“Cit”

“Citraaa”

“CITRAAA.” Aku mengerjap kaget.

“Ehh iya maaf kak.”

“Tar pulang gue tunggu di deket lapangan. Depan kelas gue.”

“Lahh ngapain kak?”

“Pokonya gue tunggu.”dia berlalu bergitu saja. Aku pun kembali ke kelas.

Tanpa sadar ternyata ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.

Mau ngapain mereka?

***

Bel pulang sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Citra pun ingat bahwa Kak Dito menunggunya. Aku menuruni tangga. Yap, kelasku memang ada di lantai atas. Tanpa sengaja aku melihat seseorang yang kini sedang berdiri menatapku.

Itu kak dito.samperin jangan ya?tapi tadi udah bilang iya. Udah deh gak usah takut. Dia sebenernya baik deh,cuma keliatannya aja galak. Batinku.

Ku lihat dia melambaikan tangannya dan seperti memberi kode”kesini”
Aku menghampirinya, kau tau? Di otakku hanya ada’hukuman hukuman hukuman’ketika melihat Kak Dito.

“Kenapa kak?”ucapku mencoba santai.

“Gapapa, lo rumahnya dimana?”aku dibuat heran sendiri. Ngapain kak dito nanya kek gitu?

“Di-----“ baru saja aku ingin menjawab pertanyaan Kak Dito, ternyata ada yang memanggilku.

“Citra.”ucapnya dingin dan melirik sinis Kak Dito.

“Zidan?”ucapku kaget.

“Cit gue minta kontak lo. Boleh kan?”tanya Kak Dito. Dito belum mengetahui jika Zidan adalah sahabat citra, maksudnya sahabat dekatnya.

“Buat apa?”   
                                      
“Boleh gak?”

“Mmm gak deh. ehh udah sore.gue pulang ya kak.bye.” Kak Dito menghela nafas. Ia pun merasa aneh dengan tingkah Citra setelah Zidan menghampirinya.

Citra berlalu diikuti Zidan di belakangnya. Dito? dia hanya memandangi punggung Citra yang semakin menjauh.

Dia siapanya citra?apa gue kalah cepet?

“Cit.”panggil Zidan tapi Citra terus saja berjalan.

“Citraaa” lagi, Citra tak menanggapi.

“Lo pura-pura gak denger Cit?”

“Ok, lo gitu sekarang.”Citra berhenti dan berbalik karena zidan masih di belakangnya.

“Kenapa?” ucapnya datar.

“Lo ngapain ketemu Dito?”

“Lah emang kenapa?”

“Gue gak suka.”Citra mengernyit bingung.

“Ah gak, lupain.”ucapnya berlalu meninggalkan Citra.

“Maksud lo apa?”Zidan tak bergeming.

“ZIDAN” panggil Citra agak berteriak.

“Lupain aja gak penting.” ucap Zidan tetap berjalan.

Aneh aneh. gerutu Citra dalam hati.

Sampe kapan lo sadar kalo gue cinta sama lo? Sampe kapan lo nganggep gue bercanda tentang perasaan gue? Gue harus buktiin apalagi biar lo percaya?
Apa selamanya gue bakal jadi sahabat lo dan gak lebih dari itu? Apa bener cinta itu tak harus memiliki?apa selamanya cinta gue ke lo bertepuk sebelah tanngan dan lo gaakan pernah ngebales perasaan gue? batin Zidan.

***
Fahri membaringkan tubuhnya di sofa, ia tak sabar ingin bertemu Citra besok. Yap, Om Hasan adalah kepala sekolah di SMAN TARUNA dan Citra sekolah disitu. Soal perusahaan yang ia pimpin? Ayahnya sudah memperingatkannya, tak perlu khawatir semuanya akan baik-baik saja. 
Walaupun Fahri masih muda, tapi ia adalah seseorang yang mampu bertanggung jawab, disiplin, dan dewasa. Itulah mengapa Hasan mempercayakan tugasnya digantikan oleh Fahri.

“Akhirnya gue bisa ketemu Citra setiap hari.”gumam Fahri pelan. Tapi Fahri tak sadar ternyata disitu ada bundanya yang sedang duduk menonton televisi.

“Duhh iya deh iya.” ucap bundanya. Fahri kaget dan merubah posisinya menjadi duduk.

“Bunda? Bunda sejak kapan duduk disini? Perasaan tadi gak ada.”

“Dari tadi, kamu sih bengong terus. Udah sabar tar besok juga ketemu ko.” Nisa menggoda anaknya itu.

“Oiya, kamu udah coba hubungi Citra lagi?”Fahri menggeleng.

“Nanti aja bun.”

“Iya deh bunda percaya sama kamu, punya strategi sendiri.”

“Oiya, bunda udah makan?”tanya Fahri. bunda menggeleng.

“Yaudah yuk makan, Fahri laper nih bun.”

“Iya kamu tunggu di meja makan aja, sekalian panggil ayah ya.” Fahri mengacungkan jempolnya.

“Ok bun.”

***

 “Za, beli martabak dong. Mama pengen martabak deh.” pinta mama saat kami sedang asyik menonon tv, kecuali Citra yang sedang dikamar.

“Siap komandan.” ucap Reza sambil berdiri. Ia sudah tahu apa martabak favorite keluarga  ini, jadi Reza tak perlu bertanya lagi. Baru saja beberapa langkah, ia berbalik.

“Citra ada dikamar kok, kamu samperin aja, Za.”baru saja iaakan bertanya ternyata mama sudah tau pikirannya. Ia pun dengan cepat menaiki anak tangga karena kamar Citra ada disebelah kamarnya.

Tok…tok… tok...

“Dek” panggil Bang Reza.

“Masuk, gak di kunci kok.”

“Dek, anter gue dong.”

“Kemana?” tanyaku singkat.

“Beli martabak. Mama pengen martabak katanya tapi gue ga mau sendiri. Gak ada temen ngobrol. Gak asik.”

“Alesan, dasar jomblooo.”

“Lo juga!”

“Gue si joppy lo jones.”ucapku terkekeh pelan.

“Rese lo ya.”Bang Reza mengacak rambutku.

“Arghhh gak mau nganter deh.”

“Aelah gitu aja ngambek, cepet ganti baju.gue tunggu.”ucapnya masih duduk dikasurku.

 “Cepetan sayangnya abang!”

“Ck, alay banget sih.”

“Keluar dong bang, tunggunya diluar.”lanjutku.

“Ehh iya hehe,cepet ya.itungan 10 harus udah selese.” Aku tak menanggapi.biar saja.
Setelah bersiap aku dan Bang Reza langsung meluncur ke tempat martabak langganan papa.

“Dek gimana sekolah lo lancar?”tanyanya tapi tetap fokus menyetir.

“Lancar dong alhamdulillah.”Bang Reza mengangguk. Dia kakak yang baik dan selalu ada untuk Citra. Keduanya sangat menyayangi satu sama lain. Reza juga bisa menjadi kakak sekaligus teman curhatnya Citra. Walaupun Reza laki-laki setidaknya dia bisa mengerti apa yang dirasakan adiknya dan menjadi salah satu tempat untuk Citra bersandar.

Tempat martabak langganan papa cukup jauh, 30 menit baru sampai dan ternyata tempat ini sangat ramai. Bang  Reza memesan dan aku duduk menunggu.
Sambil menunggu pesanan datang aku memainkan handphoneku.
 Saking asiknya Citra tak sadar Reza sudah kembali dan kini duduk di sampingnya. melihat adiknya yang fokus pada smartphone, Reza mengambilnya dan membuat Citra telonjat kaget.

“Ih, balikin!”ucap Citra sambil berusaha meraih hpnya yang direbut oleh Reza. Tapi tak bisa karena tingginya hanya sebahu Reza tak sampai jika ia mengambil dari tangan kakak nya itu.

“Gak.”ucap Reza yang masih setia mengangkat hp Citra.

“Reseee.” Citra duduk.

“Duh ngambek, nih nih.” Reza memberikan hp adiknya dan dengan cepat Citra mengambilnya. 
Belum sempat Citra ambil, Reza malah menariknya lagi.

“Etssssss.” Citra diam dan memasang wajah kesal.

“Senyum dulu.”Citra malah memalingkan mukanya.

“Dek..”

“Ck, gitu aja ngambek.”

“Dek.” Reza memelas. Citra tahu jika kakaknya seperti itu pasti lucu. Sebisa mungkin ia menahan tawanya. Sebenarnya Citra tak marah, hanya ingin menjahili kakaknya saja, suruh siapa reseh.
Citra menatap Reza dan benar saja ekspresi kakaknya itu benar-benar lucu, tawanya pecah.

“Reseee.” Reza mengacak jilbab Citra.

“Kebiasaan deh, rusak kan.”Citra membetulkan letak hijabnya dan hpnya sudah kembali ke tangannya.

 “Bang rame banget ya.”Bang Reza mengangguk. Kami sudah memesan dan  harus cukup sabar karena harus mengantri.

 Dia merangkulkan tangannya pada bahu Citra. Citra yang diperlakukan seperti itu biasa saja karena memang itu kebiasaan kakaknya.banyak pasang mata yang melihat mereka iri. Karena mereka terlihat seperti sepasang kekasih dan ada juga yang menatapnya tak suka.

‘Duh romantis banget sih’

‘Serasi deh masnya ganteng mbaknya cantik’

‘Meleleh abang dek’

‘Duh mbak ,masnya buat gue aja yah’

‘Anak muda zaman sekarang bener-bener menghawatirkan.’

‘Udah malem masih aja sama pacar’

Citra sayup-sayup mendengar komentar buruk mereka, Citra sudah biasa dengan komentar-komentar seperti itu.
Citra melepaskan rangkaulan Reza.

“Kenapa?”

“Malu di liatin orang.”

“Kakak adek ini, santai aja sih.”

“Ya tapi mereka nganggepnya lain.”

“Jangan mikirin omongan orang sih dek,yang penting itu kenyataannya gimana . jangan pusing-pusing mikirin mereka, kadang mereka cuma berkomentar tanpa tau kebenarannya.” Citra mengangguk mengerti.

“Yang penting kamu jangan menilai orang lain tanpa tau kebenarannya seperti apa.” Citra mengangguk lagi.

“Kakakku ini ganteng kok, tapi kenapa belom ada yang nyantol ya?”ucap Citra sambil menatap Reza terkekeh.

“Yee.. yang nyantol si banyak, gue nya aja yang gak mau. Soalnya gak mau salah pilih. Gue pengen cewek yang bener-bener tulus ke gue dek, bukan Cuma liat rupa, harta, dan jabatan doang.”

“Bijak juga ya.”Citra terpana mendengar penututan kakaknya.

 Akhirnya pesanan mereka sudah datang, Reza segera membayarnya dan pulang.
Setelah sampai di rumah mereka menyantap martabaknya dan tiba-tiba Reza menyinggung masalah Fahri.

“Oiya dek, yang kemaren nelpon siapa?”

“Gak tau bang.”

“Emang gak nelpon lagi?”Citra menggeleng.

“Orang iseng kali.” Reza mengangguk.

“Emang kemaren kenapa dek?”tanya papa.

“Gak kenapa-kenapa kok pa.”

“Bener? Oiya dek kata Bang Reza kamu punya pacar?”Citra yang sedang makan martabak tersedak mendengar pertanyaan papanya. reza membantu mengambilkan minum dan menepuk punggung citra pelan.

“Duhh pelan-pelan.”

“Ih gak kok pa, Bang Reza boong tuh. Abang ih rese banget sih. Ma.. Bang Reza tuh. Tau ah aku kesel sama abang” Reza hanya cekikikan.

“Reza kamu tuh ya seneng banget bikin adiknya kesel.”ucap mama.

“Ya abis, Reza liat tatapan dia tuh beda banget ma, naksir lu kali dek.”

“Dia? Dia siapa Za?”tanya mamanya penasaran.

“Kakak temennya kali ma, Reza ga liat jelas sih soalnya Reza nunggunya depan komplek pas jemput Citra.”

“Terserah abang aja deh.”Citra tak mau menanggapi abangnya.

Tringg…
Hp citra berbunyi menandakan ada pesan masuk.

+6281809876780
Citra?

Citra bingung. ‘Ini nomornya sama kaya yang kemaren nelpon deh.’  batin Citra.

“Siapa dek?”tanya Reza.

“Abang kepo deh.”Citra bangkit dan pergi ke kamar.

“Ma, pa Citra ke kamar ya.”

“Iya sayang.”

“Huuu dasar nyebelin.”teriak Reza dan Citra menjulurkan lidahnya.
Citra menghempaskan tubuh di kasur empuk miliknya
Citra membalas pesan itu.

+6281809876780
Citra?
Siapa?
Fahri, masih inget?


Deg.
Kak Fahri? Ko Kak Fahri tau nomer aku ya? Jadi yang kemaren nelpon itu Kak Fahri? Citra membalas pesan Fahri lagi.


+6281809876780
Citra?
Siapa?
Fahri, masih inget? J
                            Eh kak fahri, inget J .

Kirain lupa, kamu belum tidur?
                         Belum ngantuk kak.
Tidur cit, besok sekolah. Nanti kesiangan.
              Iya iya kak.
Good nightJ


Aku tak membalas pesan Kak Fahri lagi karena memang benar-benar ngantuk.  aku meletakkan hpku diatas nakas. Sebelum itu memberi nama dulu ‘Kak Fahri’ dan setelah itu aku mulai terlelap.

Pukul 05.30

Tringggg…. Hpku berbunyi menandakan pesan masuk. Baru saja aku keluar dari kamar mandi dan memakai seragam.

‘tumben banget pagi-pagi udah ada yang sms, ah paling operator.’batin Citra. Tapi aku juga penasaran.


Kak Fahri
Pagi cit, semangat sekolahnyaJ

Aku tersenyum membaca pesan singkat dari Kak Fahri. aku membalasnya.

Iya kak, makasih.
send.


Akupun turun ke bawah untuk sarapan dan berangkat sekolah.


Ini part 3, semoga suka ya. mohon komentarnya :)
terima kasih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NOVEL(PART 6)

CINTA HALALKU PART 6  "Semoga kamu adalah masa depanku. Aku disini bersiap menjemputmu." ~Fahri Al Farizi~ ...